ACIKITA Foundation

Hiyodoridai 3-9 21-104, Kobe 651-1123, JP

+81 80 3333 1327

admission@acikita.org

Hiyodoridai 3-9-21-104 Kobe 651-1123, JP

09:00 - 17:00

Monday to Friday

123 456 789

info@example.com

Goldsmith Hall

New York, NY 90210

07:30 - 19:00

Monday to Friday

History

ACIKITA (Aku Cinta Indonesia Kita Sejahtera) adalah organisasi yang didirikan pada tanggal 4 Oktober 2006 di Tokyo, oleh Dr. Jumiarti Agus, Dr. Prihardi Kahar, dan Rahmiwati Agus S.Ag. Organisasi ini bergerak dalam bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi. Organisasi ini didirikan sebagai wujud kontribusi nyata kami dalam memajukan Indonesia, melalui perjuangan yang berfokus pada bidang pendidikan. Kami bercita-cita ingin menceta generasi Habibie (generasi yang mempunyai keahlian unik dan spesifik, cinta tanah air, dan mempunyai agama dan moral yang baik).

Motto kami di ACIKITA,

“Berjuang bersama membangun bangsa, melalui perjuangan pada bidang pendidikan mari kita memutus rantai permasalahan bangsa.”

Pendidikan adalah akar kemajuan suatu bangsa, bangsa yang maju ditopang oleh sistem pendidikan yang baik. Misalnya negara Jepang, sebuah negara yang miskin sumber daya alam, tapi nyatanya maju secara teknologi, mereka memiliki moral yang baik dan peradaban yang harmonis. Ini semuanya disebabkan oleh sistem pendidikan yang mereka terapkan, yang mampu mencetak manusia-manusia dewasa yang bermanfaat untuk kemajuan Jepang.

Latar Belakang ACIKITA Diikrarkan

Belum meratanya tingkat pendidikan di Indonesia, maraknya anak jalanan di kota-kota besar, hilangnya aktivitas kaum perempuan setelah memasuki dunia berkeluarga, ditambah berbagai krisis yang terjadi di negeri tercinta, mulai dari krisis sosial, ekonomi,  pendidikan, politik, pemerintahan, keamanan, dan lain-lain, menjadi pemicu kelahiran ACIKITA di bumi Sakura.

Suatu kondisi yang sangat mendesak kami, Najmi puteri kecil kami yang berusia 4 tahun, saat kami pulang ke Indonesia, dia melihat banyak sekali anak jalanan yang meminta-minta di simpang Dago, di Bandung. Dia selalu protes pada ibunya,

“Mami kenapa anak-anak itu ada di jalanan? harusnya dia bermanja-manja dengan ayah dan ibunya. Kenapa mereka memukul kaleng, dan bernyanyi, terus meminta uang pada orang di dalam angkutan, apa mereka tidak punya uang? Mohon bantu mereka Mami, kasihan kita!”

Ucapan di atas tidak henti-hentinya disampaikan Najmi kepada orangtuanya, hingga ia balik ke Jepang. Ia seolah-olah ingin memperjuangkan kondisi anak-anak jalanan tersebut. Wajar ia seperti itu, karena di Jepang tidak ada satu pun anak yang meminta-minta di jalanan. Di Jepang, keberadaan anak dipastikan aman oleh negaranya, ini terbukti setiap anak yang lahir mendapatkan uang tunjangan dari pemerintah kota setiap bulan, yang ditransferkan oleh staf pemerintah di city office bidang kesehatan, di setiap kota di Jepang. Dan andaikan orangtua tidak bisa merawat anaknya, misalnya karena sakit atau ada halangan tertentu, maka anak-anak tersebut akan dirawat oleh negara dengan biaya persatu orang anak sebesar 160,000 yen.

Tuntutan Najmi di atas ikut mempercepat ACIKITA dideklarasikan. Suara yang disampaikan oleh anak adalah kebenaran dari Allah. Akhirnya pada tanggal 4 Oktober 2006, dengan semua kondisi di atas, ACIKITA kami deklarasikan di Tokyo.