Menjadi Volentir Sangat Umum Bagi Mereka

Menjadi Volentir Sangat Umum Bagi Mereka

Bu Ari, selalu menyempatkan untuk berbicara dengan para senior (baca kakek-kakek atau nenek-nenek) Jepang yang sering bertugas sebagai volentir (suka rela), untuk menjadi penerima tamu di meja pendaftaran tamu yang datang di sekolah SD Hiyodoridai, Kobe Jepang.

Si kakek yang bertugas berucap,

“Anata no ban wa rokkugatsu no nijuni nichi desu yo ne!”

Jadwal Anda bertugas menjadi penerima Tamu tanggal 22 Juni ya

“Haik, sou desu!”

“Iya, betul, jawab Bu Ari.

“Demo watashi wa hajimete desu kara cotto simpai desu. Dekiru ka doka mada wakaranai desu!”

Bu Ari berucap dirinya baru pertama akan melakukan tugas di loket pencatatan tamu yang datang ke sekolah SD Hiyodoridai. Ia cemas, apakah bisa melakukan tugas tersebut dengan baik atau tidak.

Spontanitas saja Bu Ari berucap hal di atas. Tapi si Kakek yang bertugas langsung membuka buku agendanya. Dia ternyata ingin mencek apakah tanggal 22 Juni jam 10.30-12.30, agendanya kosong. Ternyata buku agenda menunjukkan tanggal tersebut sudah ada kegiatan.

“Watashi wa sono hi ni, oshigoto ga arimasu kara, isshouni dekinai desu, sumimasen!’

Saya pada tanggal Anda bertugas tersebut ada pekerjaan yang sudah dijanjikan, jadi tidak bisa bersama bertugas sebagai penerima tamu.

“Demo ne, kantan desu kara daijoubu desu yo!”

“Tapi pekerjaannya mudah, InsyaAllah tidak apa-apa. Datang, duduk di sini, persiapkan tanda pengenal untuk tamu, dan list tamu yang datang. Semuanya sudah ada disiapkan di sini.”

Ada yang menjadi keinginantahu Bu Ari, agenda si Kakek itu penuh setiap hari, dan dia tuliskan dengan tinta yang berbeda.

“Saya boleh tahu agendanya apa saja?” Tanya Bu Ari.

Kakek Jepang itu pun melihatkan buku agendanya. Ia pun menerangkan kegiatannya.

“Ini yang tinta merah, hari saya bertugas di SD, pagi ada jadwal menjaga lalu lintas, membantu anak anak menyeberang. Siang ada saat menjaga lalu lintas atau mengantarkan rombongan anak pulang sekolah. Ada kegiatan di perpustakaan, di masyarakat, dan menjadi volentir d Shiawase no mura.”

Setiap hari rata-rata kegiatannya sebagai volentir?

“Ya, dominan kegiatan saya sebagai volentir.”

Subhanallah, Bu Ari sangat terkagum mendengarkan jawaban Kakek Hayashi itu, andaikan dia muslim tentu banyak amal jariyahnya.

Ya semoga suatu saat hidayah Allah datang kepadaNya. Aamiin YRA.

Tidak saja Kakek Hayashi itu, umumnya para Kakek dan nenek di Jepang, kegiatan yang dominan dilakukan mereka adalah sebagai volentir. Ada banyak musium, sekolah, dan kegiatan kemasyarakatan yang mereka ikuti, statusnya sebagai volentir.

Kenapa mereka mau sebagai volentir?

Mereka yang aktiv jadi volentir di sekolah dalam berbagai kegiatan di sekolah SD misalnya berucap,

“Mereka anak-anak ini adalah takara mono, masa depan bangsa Jepang akan ditentukan oleh mereka nanti.” Makanya harus disupport proses pendidikan mereka.

Sebagian berucap, mendapatkan ucapan terimakasih dari seseorang adalah kimochi (menyenangkan), makanya saya suka kegiatan volentir.

Ada juga yang berucap, setiap orang membutuhkan orang lain, saya juga butuh bantuan orang lain. Jadi pada hal yang saya bisa lakukan, saya juga ingin berbuat untuk mensupport orang lain.

Sementara volentir yang bertugas membuatkan masakan untuk seluruh orangtua yang ingin makan bersama di jadwal bulanan berucap,

“Mereka para orangtua itu sudah bergiat untuk support kehidupan di Jepang, maka tugas kami memberikan ucapan terimakasih kepada mereka!”

Jawab ibu-ibu yang bertugas sebagai volentir membuat masakan makanan siang untuk para kakek dan nenek yg berusia 65 tahun ke atas, di Hiyodoridai Kobe.

Berompi hijau muda adalah para volentir di sekolah SD Hiyodoridai, Kobe Utara

Volentir dalam berbagai event di sekolah dimana pesertanya para orangtua murid juga sangat banyak. Masing-masing seakan sudah paham kalau mendidik anak tidak urusan guru di sekolah saja. Tapi semua pihak harus mengambil bagian. Ada yang bertugas menjaga meja pendaftaran atau meja tamu di sekolah, membantu guru dalam proses belajar tertentu, membantu proses persiapan dan kegiatan olahraga terpadu di sekolah, membantu mengoleksi sampah yang dikumpulkan oleh sekolah, serta membantu sosialisasi dan hubungan luar antara sekolah dan masyarakat. Termasuk dalam membuat poster kegiatan sekolah, ini adalah volentir dari bagian public relation.

“Pekerjaan berat bila dikerjakan secara gotong royong dan berjamaah akan menjadi ringan.”

Di Indonesia juga kita sudah terbiasa dengan kegiatan gotong royong, misalnya membersihkan kampung, mesjid dan Musholla. Tapi untuk proses mendidik generasi kegiatan volentir masih belum populer di negeri kita. Sangat jarang PTA (Parent Teacher Association)/ Komite Sekolah yang mau berkantor dan berdampingan dengan guru, mengadakan kegiatan yang berkesinambungan dan terorganisir di sekolah, secara Istiqomah.

Mereka para volentir, para kakek dan nenek di kawasan Hiyodoridai, Kobe Utara, usai patroli keamanan di kawasan Hiyodoridai, terutama untuk menjaga keselamatan anak anak yang bermain bebas di taman taman di kawasan Hiyodoridai.

Semoga hal baik di negeri orang bisa kita adopsi untuk generasi masa depan yang lebih baik. Aamiin YRA.

Wassalam

Jumiarti Agus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *