Kenapa Mereka Mau Menjadi Guru?

Kenapa Mereka Mau Menjadi Guru?

Oleh Jumiarti Agus

Bulan Ramadhan tahun 2019, ibu-ibu tangguh pemilik dan pendiri Sekolah alam di Indonesia (SA pusat, SOU Bogor), dan di beberapa kota di Indonesia (Cabang sekolah alam, SA Lampung, SA Kedal, SA Bintaro), datang ke Kobe untuk mengikuti training pendidikan dengan tema, Rahasia Pendidikan Sebagai Akar Kemajuan Bangsa Jepang”. Jadi materi komplit sebagai bukti nyata sistem edukasi yang menghantarkan kemajuan bangsa Jepang, kami persembahkan kepada para Ibu pejuang SA.

Sama seperti semua orang peserta Sekolah Informal yang diadakan ACIKITA, semuanya takjub, betul betul detil dan dahsyat dampak dari menerapkan sistem pendidikan yang berpola pada:

  1. Pendidikan moral sejak dini
  2. Menggali potensi anak sejak usia dini.

Saat belajar tentang sistem pendidikan di SMP , salah satu dari mereka bertanya, karena saking takjubnya,

“Kenapa mau menjadi guru?”

Pertanyaan diarahkan kepada wakil kepala sekolah, saat kami berdiskusi dan tanya jawab tentang sistem pendidikan di Jepang, terutama terkait SMP, yang dikunjungi saat itu.

Wakil kepala sekolah menjawab,

“Saya ingin menjadi guru karena semasa hidup saya dari mulai bersekolah, menemukan guru-guru yang baik, dan mengajar sangat baik. Mereka menerangkan dan membimbing anak-anak semuanya dengan baik. Saya merasa happy dengan kondisi tersebut. Akhirnya terfikir dan memutuskan untuk menjadi guru. Saya juga ingin seperti guru-guru saya, bisa mengajar dengan baik dan membuat banyak orang menjadi happy.”

Pertanyaan selanjutnya, saya arahkan kepada Kepala Sekolah, saat kami meeting dan berdiskusi di ruang kerja beliau yang sangat apik dan luas.

“Kalau saya boleh tahu, saya juga ingin bertanya pada Sensei, kenapa Sensei ingin menjadi guru?”

Dengan tanpa pikir panjang Kepsek langsung menjawab,

“Saya ingin menjadi guru, karena saya menyukai dunia anak, saya suka berinteraksi dengan anak-anak, mengasyikkan dan menyenangkan, karena itu saya memilih pendidikan keguruan.”

Clear, jelas dan terlihat dari hati keinginan untuk menjadi guru, makanya mereka bekerja tanpa mengenal lelah.

Padahal mereka sudah tahu, menjadi guru di Jepang sangat taihen (melelahkan). Seorang guru tidak hanya mengajar, tapi juga memegang kelas (sebagai guru wali kelas), artinya banyak hal yang mereka lakukan untuk mendidik anak menjadi baik, ditambah wajib memimpin kegiatan club. Setiap sekolah di Jepang sangat mengutamakan semua anak untuk memilih club yang ada di sekolah.

Setiap guru SMP di Hiyodoridai ini memegang 2 club. Jadi usai jam belajar, masih ada tugas di club. Kegiatan itu berakhir sekitar jam 6:pm.

Nanti jam 7, mereka wajib patroli, memeriksa semua area di kawasan Hiyodoridai, memastikan apakah masih ada anak-anak yang di luar rumah atau tidak.

“Memeriksa kawasan ini juga sering dengan berjalan kaki,” ucap Kepala Sekolah.

“Subhanallah perjuangan mereka!” Kawasan yang tidak kecil tapi cukup luas, ditempuh dengan berjalan kaki.”

“Setelah patroli sekitar 8.30 atau jam 9, mereka yang bertugas balik ke sekolah. Setelahnya mempersiapkan dan mencek bahan untuk besok harinya. Kadang kalau sudah ok dipersiapkan disela-sela anak istirahat, bisa langsung pulang. Kalau belum, sering di antara guru pulang jam 11 malam. Besok pagi jam 6.30-7.00 sudah pada berdatangan di sekolah. Padahal jam belajar mereka untuk jam pertama dimulai jam 8:45.”

Sungguh kami semua takjub mendengarkan keterangan kepala sekolah, bagaimana pengabdian guru yang sungguh totalitas. Persembahan dan bhakkti para guru terhadap aset masa depan bangsa mereka.

Mereka para guru mau dengan sungguh serius mengurusi anak-anak calon pemimpin masa depan bangsa mereka, karena bagi mereka para murid adalah Takara mono. Artinya para murid adalah masa depan bangsanya.

Kenapa mereka sangat bertanggungjawab dan Istiqomah dalam mendidik generasi?

“Bila mereka tua, maka murid-murid ini yang akan menjadi topangan masa tua mereka. Para anak muda yang akan membayar pajak, sehingga yang tua bisa hidup aman dan nyaman.

Jadi dari saat sekarang mereka harus menanam dengan baik, agar semuanya menjadi orang yang bermanfaat untuk masa depannya dan masa depan bangsanya.

“Begitu analisis cara berfikir mereka, bukan keuntungan sesaat, tapi untuk suatu masa nanti yang masih lama.”

“Mengajar bukan karena dapat imbalan besar.”

“Tapi memang sudah komitmen mereka dari awal untuk mengabdi, mendidik generasi, untuk masa depan bangsanya!”

Cara berfikir orang Jepang seperti di atas sering berbeda dengan cara pikir bangsa lain di dunia. Dan hal ini sangat terasa hingga di tingkat universitas, dimana Sensei sangat baik dan perhatian pada semua mahasiswanya.

Kembali ke pilihan menjadi guru, tidak ada di antara mereka yang dadakan menjadi guru. Profesi guru sungguh sangat mulia di negeri seribu gempa ini. Tidak bisa tamatan universitas, langsung menjadi guru seperti di negeri kita. Bahkan untuk menjadi guru TK misalnya, mereka sudah dari SMA memilih jalur pendidikan guru TK atau hoikuen. Setelahnya ditambah pendidikan di universitas.

Menjadi guru karena memang minat dan kemauan hati mereka. Bukan menjadi guru dari pada tidak bekerja, atau “yang tersesat di jalan yang benar” (peralihan profesi karena kondisi negeri yang memburuk, meminjam istilah Ibu ibu pejuang pendidikan di SA:)).

Menjadi guru di Jepang, setelah lulus dari jurusan, fakultas, atau universitas keguruan, mereka wajib mengambil lisensi, setelahnya baru apply mengajar dan bila lulus baru bisa menjadi guru.

“Mengapa mereka bisa menemukan dan menghantarkan para manusianya menuju jenjang karir yang diminati?”

Jawabnya ada pada sistem pendidikan mereka, dimana sejak dini, minat, bakat, kecenderungan anak digali dengan maksimal, dicatat perkembangan, dan dikomunikasikan dengan orangtua. Akhirnya saat SMP setiap anak mengambil dan memutuskan jalan menuju masa depan mereka. Dari sejak tamat SMP, mereka berpencar ke banyak sekolah, berbeda kota, bahkan beda propinsi. Bagi mereka yang tidak berminat bersekolah (jalur akademik), dan ingin bekerja, mereka sudah bisa bekerja sejak tamat SMP.

Jadi tidak ada istilah bagi mereka, ikut-ikutan orang lain, dan ikut-ikutan kuliah, atau asal kuliah dan merubah status sosial.

“Mereka memang ingin menjadi dirinya!” Jibun no Koto jibun de kimete! Hal menyangkut diri dan masa depannya, memang anak yang memutuskan!

Semoga para guru di Indonesia bisa sangat bersyukur dengan berprofesi sebagai guru, apalagi bagi yang bukan dari kependidikan, tapi bisa diterima mengajar, di sekolah tertentu, seperti kebanyakan terjadi di Indonesia.

Mari mengajar dan mendidik anak-anak dari hati, karena imbalannya InsyaAllah pahala dari Allah yang terus mengalir. Aamiin YRA. Setiap poin perjuangan yang dilakukan bila dijalankan dengan ikhlas, InsyaAllah semuanya bernilai ibadah, bernilai amal jariyah yang sungguh tak bisa dihargai dengan uang.

“Mereka saja tidak mengenal amal jariyah, tidak mengenal syurga Allah, tapi mendidik sungguh dari hati, dan tidak mengenal lelah, serta tak mengenal ada atasan atau tidak, ia selalu akan serius berkarya dan mendidik murid-muridnya, seakan pribadinya adalah atasan.”

“Mereka para guru tidak akan pernah merusak citra dan nama baik sekolah, memberikan info yang melemahkan semangat anak, atau memberikan info yang salah.”

Semoga bisa kita ambil hikmah dari penuturan kisah nyata ini. Aamiin YRA.

Wassalam

Jumiarti Agus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *