Mempertaruhkan Masa Depan di Negeri Seribu Gempa Oleh: Mochamad Asri (S1, Monbukagakusho, Tokyo Institute of Technology)

“Sejak saat itu, tepatnya ketika aku berada di bangku kelas 2 SMA, aku bertekad harus mampu melanjutkan pendidikanku tanpa harus membebani Ibu. Cara satu-satunya adalah dengan berjuang mendapatkan beasiswa.”

Negeri Seribu Gempa, begitu kumenyebutnya. Negeri yang kudiami dalam 2 tahun terakhir ini. Negeri yang telah memberiku banyak pelajaran, baik itu pelajaran akademis maupun pelajaran hidup. Yup, Itulah Jepang.

Banyak orang menyebut Jepang dengan sebutan ‘Negeri Matahari Terbit’ karena Gunung Fuji-nya, Negeri Ninja karena legenda pasukan ninjanya, ataupun Negeri Bunga Sakura karena keindahan bunga sakuranya.

Aku tidak memungkiri bahwa Jepang mempunyai semua kelebihan dan keindahan itu, tapi entah kenapa aku lebih senang menyebut Jepang dengan sebutan Negeri Seribu Gempa, sebutan dengan makna yang penuh tantangan di dalamnya.

Tantangan yang membuatku bisa seperti sekarang ini, meneruskan pendidikan di Jepang dengan mendapatkan beasiswa dari pemerintah Jepang.

Latar Belakang Keluargaku
Ketika Masih Bersama Ayah
Aku dibesarkan dari keluarga yang heterogen. Ayahku adalah putera dari tanah rencong, sedangkan ibuku adalah wanita keturunan Sunda yang sudah lama menetap di Jakarta. Mengingat kembali masa kecilku dulu, adalah hal yang paling aku sukai. Karena pada masa itulah kebahagiaan terpancar, layaknya sinar kunang-kunang yang menjadi pelita di malam hari, canda dan tawa seakan begitu mudah tercipta tanpa ada beban, rintangan, dan rasa khawatir yang aku rasakan. Boleh dibilang masa itu merupakan masa yang paling menyenangkan.

Keluarga kami hidup bahagia dan berkecukupan tanpa melupakan prinsip-prinsip kesederhanaan. Ayah bekerja sebagai pegawai negeri di salah satu departemen pemerintah di kawasan Jakarta Selatan, sedangkan Ibu bekerja di bank swasta di bilangan Kalimalang, Jakarta timur.

Aku sangat bersyukur, karena Ayah dan Ibu membiayai hidup kami dengan berkecukupan, tanpa harus meminjam uang kepada sanak saudara ataupun orang lain. Bahkan sesekali, Ayah masih bisa menyisihkan sebagian uangnya untuk membeli barang mainan yang aku minta seperti lego atau mobil-mobilan.

Ayah meninggalkan kami
Akan tetapi, cahaya kebahagian itu mulai sirna perlahan-lahan oleh cobaan yang menimpa keluarga kami. Dimulai pada tahun 1996, ketika krisis ekonomi global menimpa bangsa Indonesia. Pada saat itu Ibu diberhentikan dari pekerjaannya.

Empat tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2000, di saat umurku masih 13 tahun, Ayah meninggalkan kami selama-lamanya, karena sakit diabetes. Sangat sedih bila teringat akan kejadian itu. Aku telah kehilangan satu sosok pemimpin yang tak kenal lelah dan pantang menyerah dalam keluarga, panutan seluruh anggota keluarga. Aku telah kehilangan figure seorang Ayah yang sangat krusial perannya dalam proses pembentukan kepribadian seorang anak yang beranjak dewasa.

Dari sinilah aku mulai bisa merasakan indahnya makna kata tantangan.

Sejak Ayah meninggal, keluarga kami hidup dalam ketidakpastian. Ibu menjadi lebih banyak melamun kosong, karena beliau tidak tahu lagi bagaimana cara mencari uang untuk membiayai biaya hidup aku dan kakakku. Semua harta yang dipunyai Ibu, dijualnya dengan ikhlas, semata-mata agar aku dan kakakku bisa meneruskan pendidikan.

Pernah di suatu malam Ibu berkata, ”Nak, semua harta Ibu dan peninggalan Ayahmu sudah habis terjual.”

“Ibu tidak tahu lagi bagaimana cara membiayai kamu dan kakakmu di masa depan.”

“Tapi, hanya satu pinta Ibu padamu Nak, belajarlahlah yang giat, carilah ilmu setinggi-tingginya karena dengan ilmu itulah kamu bisa membuat Ibu bangga kepadamu.”

“Bahkan jika Ibu harus mengemis sekalipun untuk biaya sekolahmu, Ibu rela Nak.”

Tak kuat hatiku mendengar kata-kata penuh pengorbanan itu.

Selama ini Ibu selalu melamun kosong karena memikirkan kehidupanku. Sedangkan aku, tak pernah sekalipun terpintas dalam pikiranku bagaimana membalas jasanya yang mulia itu. Yang aku lakukan hanya bermain-main tanpa peduli pada keadaan Ibu.

Tanpa kusadari, linangan air mata mulai membasahi pipiku. Air mata bentuk kekecewaanku terhadap diri ini, yang belum mampu menjadi seorang anak yang bisa membahagiakan orangtuanya. Bahkan tidak jarang anak itu berani membangkang dan menentang sang Ibu dengan nada yang tinggi dan suara yang lantang.

“Maafkan aku ya Allah.”
“Aku belum mampu membahagiakan Ibuku.”

Kupeluk Ibu dengan penuh rasa kasih sayang. Rasa yang dibungkus tebal oleh tekad seorang anak yang ingin membahagiakan orangtuanya.

Kami berdua larut dalam tangis.

Kubisikkan kata ke telinga Ibuku, “Bu, Aku janji tidak akan mengecewakan Ibu di sisa umurku ini.”

“Tidak ada kebahagiaan terbesar di dunia ini selain aku bisa membahagiakan Ibu.”

“Doakan anakmu ini Bu.”

Janji yang telah kutanam dalam-dalam di sanubariku, hingga saat ini di usiaku yang menginjak 20 tahun.

Kondisi ekonomi keluarga yang seperti ini membuat perasaanku semakin terjepit. Di satu sisi, aku tidak mau mengubur cita-citaku untuk menjadi seorang intelek hanya karena kekurangan biaya. Di sisi lain, aku tak mau membebani Ibu dengan memaksanya mencari uang untuk membiayai sekolahku di tengah keadaan ekonomi keluarga kami yang seperti ini.

Tapi itulah tantangan, semakin kita dibuat cemas karenanya, semakin diri ini mencoba mengeluarkan kemampuan terbaik untuk melawannya.

Mencari Informasi Beasiswa
Saat itu, aku menyadari bahwa aku tidak akan mampu melanjutkan pendidikanku di perguruan tinggi, kecuali ada orang yang mau menanggung biayanya. Karena dengan kondisi ekonomi keluarga kami, membayar uang kuliah yang sangat mahal itu adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin. Sejak saat itu, tepatnya ketika aku berada di bangku kelas 2 SMA, aku bertekad harus mampu melanjutkan pendidikanku tanpa harus membebani Ibu. Cara satu-satunya adalah dengan berjuang mendapatkan beasiswa.

Aku coba mencari info segala beasiswa. Baik melalui koran, melaui informasi di sekolah, ataupun di website. Beberapa teman dan seniorku pun ikut memberikan informasi tentang beasiswa. Prinsipku hanya satu waktu itu, apapun beasiswanya tidak jadi masalah, yang penting aku dapat melanjutkan sekolah tanpa membebani keluargaku.

Aku pelajari berbagai jenis beasiswa, baik dari dalam negeri ataupun di luar negeri. Apa saja syarat-syaratnya, bagaimana cara mendaftarnya, dan lain-lain. Dan aku pun menemukan satu hal esensial yang diminta oleh seluruh pemberi beasiswa, yaitu nilai akademis yang istimewa.

Aku sadar, bahwa langkah besar yang harus kulakukan pertama kali adalah belajar dengan giat. Karena siapapun pemberi beasiswa itu, mereka akan menilai layak atau tidaknya seseorang untuk mendapat beasiswa dengan standar utama yaitu nilai raport.

Semenjak itu, aku habiskan banyak waktuku dengan belajar semata-mata agar aku bisa mendapatkan beasiswa. Waktu luang yang biasanya aku habiskan dengan hobiku bermain sepakbola pun rela kukorbankan demi mengulang kembali pelajaran-pelajaran di sekolah. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, itulah peribahasa tepat, yang bisa menggambarkan kondisiku saat itu.

Mendaftar Beasiswa Pemerintah Singapore
Hasil belajarku perlahan-lahan mulai terlihat. Nilai raport-ku di kelas 3 semester 1 mulai meningkat dibandingkan kelas 1 dan 2 dulu. Kepercayaan diriku mulai tumbuh. Aku merasakan keyakinan yang begitu besar, dan begitu dahsyat. Akhirnya aku beranikan diri mendaftar beasiswa dari pemerintah Singapore. Dengan keyakinan yang sangat tinggi, aku jalani tesnya.

Dua bulan kemudian hasil tes pun keluar. Awalnya, pemerintah Singapore memberi tahu kepadaku bahwa statusku masih “pending”, belum ditolak ataupun diterima. Mungkin layaknya cadangan dalam suatu tim sepakbola. Aku pun sabar menunggu, menanti secerca harapan itu, berharap agar mereka memasukkan aku ke dalam daftar penerima beasiswa mereka.

Hanya saja Allah berkata lain.
Sampai satu minggu menjelang ujian akhir nasional (UAN), mereka belum memberiku kepastian, aku seperti orang yang digantung dan diayun-ayunkan ke kanan dan ke kiri. Aku sedih, rasanya diri ini seperti kehilangan arah. Aku rasakan cita-citaku telah hancur, mungkin mimpiku untuk bisa melanjutkan sekolah tanpa membebani Ibuku telah hancur.

Aku meminta saran kepada salah seorang guruku, apa yang sebaiknya kulakukan. Beliau berkata, ”Sudahlah, lupakan beasiswa itu. Masih banyak hal-hal lain yang akan menunggumu dan membutuhkan komitmenmu secara total.”

“Minggu depan ada UAN.”

“Kau tidak boleh pecahkan konsentrasimu pada saat UAN, hanya karena memikirkan suatu harapan kosong.”

“Berpikirlah lebih jauh.”
“Kau tahu kan bahwa ada beasiswa ‘Monbukagakusho’. Kamu masih punya kesempatan Nak. Kalau nilai UAN dan raport terakhirmu bagus, insyaAllah Bapak yakin kau akan lulus dalam seleksi beasiswa Monbukagakusho itu.”

Aku tertegun mendengarnya!
“Bodoh sekali aku ini. Menelantarkan sesuatu yang penting, hanya demi memikirkan suatu harapan kosong. Menelantarkan UAN-ku hanya karena berharap belas kasihan pemerintah Singapore agar memberiku beasiswa.”

Mendaftar Beasiswa Monbukagakusho
Aku pun bergegas pergi ke warnet langgananku. Jariku dengan lincah menekan tuts keyboard, mengetik alamat http://www.id.emb-japan.go.jp/, situs resmi dari kedubes Jepang di Indonesia. Di sana aku melihat lebih detil lagi mengenai beasiswa Monbukagakusho. Tertulis berbagai persyaratan seperti aku paparkan selanjutnya.

Lega, khawatir, tegang, semua perasaan bercampur menjadi satu ketika aku melihat informasi itu. Di satu sisi aku lega karena mengetahui bahwa kesempatanku masih ada, disisi lain aku khawatir dan tegang memikirkan bagaimana andaikan aku gagal lagi di kesempatan kali ini. Kembali adrenalinku dipacu oleh sebuah kata, TANTANGAN.

Tantangan berada di depanku, ini berarti dalam seminggu terakhir ini aku harus berusaha sekuat mungkin agar nilai raport dan UAN-ku rata-ratanya 8.00. Yang ada dalam pikiranku hanya satu, melanjutkan pendidikan dan menggapai cita-citaku.
***
Alhamdulillah, Allah melihat usahaku.
Nilai rata-rata raport dan UAN-ku melebihi 8.00. Kusegerakan mengambil formulir di Kedubes Jepang dan mendaftar. Proses itu cukup memakan waktu, karena antrian yang panjang dan juga ketatnya sistem pengamanan di kedubes Jepang, hanya membolehkan 3 orang pelamar yang masuk tiap sesi.

Akhirnya, setelah menunggu lama lamaranku berhasil diproses. Berdasarkan staf kedubes, bagi yang lulus seleksi dokumen akan dihubungi oleh pihak kedubes 3 minggu setelah hari terakhir masa pendaftaran. Aku pun pulang ke rumah, memberitahu Ibu bahwa langkah pertama, yaitu penyerahanan aplikasi dan berkas-berkas telah selesai. Ibu pun tersenyum senang. Aku hanya bisa berharap agar Allah melancarkan jalanku ke tahap seleksi yang kedua.

Mengikuti Tes Tertulis Monbukagakusho
Tiga minggu setelah aplikasi kuserahkan, ketika aku sedang bermain badminton bersama kakak, telepon rumahku berdering. Aku bergegas menjawab telepon itu.

Seseorang dengan nada formal berbicara kepadaku, “Selamat siang. Bisa bicara dengan Mochamad Asri?”

Aku jawab,”Ya, saya sendiri.”

“Dik Mochamad, kami dari bagian pendidikan Kedubes Jepang ingin memberitahukan bahwa Adik dinyatakan lulus untuk mengikuti tes seleksi beasiswa pada tanggal 20 Juli nanti. Tolong datang tepat waktu, pada pukul 09.00 di Pusat Bahasa Universitas Indonesia (UI) Depok.”

Bergetar hatiku, seakan tidak percaya apa yang baru saja aku dengar. Aku beritahu kabar ini kepada Ibu dan kakakku. Mereka hanya berpesan, “Ini baru langkah awal, masih banyak ujian-ujian lain yang akan kau jalani.”
***
Pagi itu, tanggal 20 Juli aku berangkat menuju Depok seorang diri, mencoba meraih masa depan melalui suatu ujian vital. Aku tiba pukul 08.30 di Pusat Ilmu Bahasa Universitas Indonesia, tempat ujian berlangsung. Pukul 09.00 para peserta diperbolehkan memasuki ruangan ujian. Dan seketika itu pula ujian dimulai. Aku pun mulai menggerakkan pensilku, mencoba memecahkan masalah yang diberikan dalam soal.

Jam menunjukkan pukul 13.45, ujian mendekati penghujungnya. Tepat pada pukul 14.00 pengawas menginstruksikan untuk berhenti mengerjakan soal karena waktu ujian sudah habis. Aku pun ke luar ruang ujian, dengan hati penuh harap. Aku merasa yakin dapat mengerjakan soal ujian itu dengan baik. Sekarang yang bisa aku lakukan adalah pasrah kepada Allah, berharap usahaku akan mendapat izin dariNya.

Kiat Suksesku di Ujian Tertulis
Waktu zamanku dulu, tidak ada bayangan sama sekali tentang soal apa yang akan keluar, jadinya persiapanku adalah belajar giat agar menang di UMPTN sekaligus belajar untuk sukses mendapatkan beasiswa monbukagakusho ini.

Nah beruntungnya, mulai tahun kemarin kedubes Jepang sudah menyediakan website untuk soal-soal tahun lalu yang diujikan. http://www.studyjapan.go.jp/en/toj/toj0307e.html#2

***
Ada satu hal yang aku cermati, bahwa soal ujian ini boleh dibilang cukup sedikit, sehingga jika kita membuat sedikit kesalahan perhitungan saja, bisa menyebabkan nilai kita turun drastis. Ketelitian dan kehati-hatian sangat diperlukan di sini, agar score kita bisa memuaskan. Adapun materi soalnya, hampir semuanya sudah dipelajari di SMU. Bedanya, kali ini ditanyakan dalam Bahasa Inggris.

Banyak temanku yang pintar matematika dan fisika, tapi karena mereka tidak terbiasa mengerjakan soal dalam Bahasa Inggris, mereka tidak mengerti apa yang ditanyakan, sehingga akhirnya tidak lulus.

Aku Diterima di ITB
Dua Minggu setelah ujian tertulis, aku dinyatakan lulus Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) untuk mengambil program sarjana Teknik Elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB). Awalnya aku sempat cemas dan bimbang, akan aku ambil ITB atau aku lepas saja, karena berharap aku diterima di beasiswa Monbukagakusho. Faktor ekonomi jualah yang membuatku bimbang seperti itu.

Aku tidak tahu siapa yang akan membiayai biaya masuk ITB jika aku memilih masuk ITB. Tapi kalaupun aku memilih menunggu pengumuman beasiswa monbukagakusho, siapa yang bisa menjamin bahwa aku termasuk yang dinyatakan lulus oleh pemerintah Jepang.
***
Alhamdulillah, ada salah seorang pamanku, yang bersedia membiayai uang kuliah semester pertama di ITB. Tapi beliau tidak menjamin akan bisa menanggung biaya untuk semester-semester selanjutnya. Aku sangat berterima kasih kepada pamanku. Aku berjanji kepada beliau akan mencoba membiayai biaya kuliah sendiri setelah masuk di ITB nanti, entah itu dengan berjualan koran, donat, ataupun mengajar di bimbingan belajar.

Aku Lulus Ujian Tertulis
Tanggal 14 Agustus, hari itu tidak ada yang spesial bagiku. Sudah seminggu aku tinggal di Bandung. Aku semakin terbiasa dengan suasana kota Bandung yang sejuk dan orang-orangnya yang ramah. Dalam perjalananku menuju kampus, handphone-ku berbunyi, menandakan ada telpon dari seseorang. Kujawab panggilan itu.

Tak kuat hatiku mendengar kabar yang diberitakan melalui telepon itu. Dari 1000 orang peserta tes, aku termasuk 13 orang yang lulus ke seleksi berikutnya, yaitu tes wawancara. Aku pun diminta untuk datang ke kedubes mengikuti wawancara minggu itu. Aku merasa harapanku pelan-pelan mulai menemui sinarnya. Aku beritahukan ke pada Ibu tentang berita ini, dan beliau pun sangat gembira tanpa melupakanku bahwa ini belum tahap final.

Tanggal 26 Agustus, Seleksi Wawancara
Aku datang ke kedubes ditemani oleh Ibu dan satu orang tetanggaku. Pada hari itu, aku sakit, muntah-muntah. Aku sudah berniat untuk tidak datang saja pada hari itu, karena memang kondisi badanku yang sangat lemah. Tapi Ibu selalu ada untukku, dia pelipur laraku, dia obor yang membakar kembali semangatku untuk mendapatkan beasiswa itu, dan dialah yang memperjuangkan agar aku tetap bisa datang ke kedubes untuk mengikuti wawancara. Aku pun akhirnya bersedia datang ke kedubes untuk wawancara walau dengan kondisi yang tidak fit.

Aku memasuki ruang dalam kedubes. Ibu dan tetanggaku menunggu di luar, karena yang diperbolehkan masuk hanya yang berkepentingan. Aku menunggu giliran untuk diwawancara. Ada 13 orang yang menunggu di ruang itu, semuanya tampak cerdas dan pintar.
Akhirnya giliranku tiba, aku memasuki ruang wawancara dengan kondisi seadanya. Aku duduk di tengah, di kursi yang telah disediakan para pewawancara. Di hadapanku telah berjajar 1 orang Jepang dan 3 orang Indonesia yang sudah siap menyerangku dengan berbagai pertanyaan.

Aku menjawab pertanyaan mereka semampuku.

Dari semua pertanyaan, yang paling membuatku berpikir optimis adalah pertanyaan “iseng” salah seorang pewawancara yang menanyakan apakah aku siap meninggalkan ITB bila aku diterima di beasiswa Monbukagakusho ini.

Aku jawab dengan sigap, “Ya.”

Akhirnya, interview yang berlangsung kurang lebih 40 menit itu pun berakhir. Aku bergegas ke luar untuk menemui Ibunda tercintaku dan menceritakan semua kejadian di dalam sana.

Ibu pun berkata, “Kita tinggal menunggu hasil, kita serahkan semua ke pada Allah.” Aku pun mengiyakan.

Aku Diberitakan Lulus

Akhir Desember…, hari-hariku semakin indah di semester perdana-ku di ITB. Aku semakin banyak mengenal teman, semakin aktif berorganisasi, dan semakin menikmati kehidupan di kota kembang. Kotanya sejuk, suasananya sangat kondusif untuk dunia pendidikan.

Belum genap 6 bulan aku tinggal di Bandung, tiba-tiba ada kabar yang mengejutkan yang merubah seluruh garis hidupku. Hari itu, aku sedang makan siang bersama salah seorang temanku di Mesjid Salman ITB. Handphone-ku kembali berdering.

Subhanallah, betapa lemasnya badan ini ketika mendengar kabar yang disampaikan sang penelepon kepadaku. Aku ditelepon oleh staf kedubes, yang menyatakan bahwa aku lulus dan akan diberangkatkan ke Jepang pada bulan April 2006 sebagai penerima beasiswa Monbukagakusho. Bukan main perasaan ini bergejolak.

Sesegera mungkin aku pulang ke Jakarta, ingin segera memberi tahu Ibu tentang hal ini.

Dan Ibu pun menangis sedih bercampur gembira ketika aku kabarkan berita ini kepadanya seraya memelukku dan berkata, “Ibu bangga kepadamu, Nak.”

Sungguh, kata terindah yang pernah kudengar dari mulut Ibundaku. Sangat mengharukan!

Persiapan Sebelum Keberangkatan ke Jepang

Detik-detik menjelang keberangkatan, tepatnya dari bulan Februari hingga Maret, kami diberikan kursus khusus Bahasa Jepang oleh kedutaan besar Jepang, yang diselenggarakan di Jakarta. Kami digembleng selama sebulan oleh para pengajar, agar setidaknya kami tidak buta Bahasa Jepang sama sekali ketika sampai di sana.

Hari-hari akhir menjelang keberangkatan pun banyak kuisi dengan bersilaturahmi ke rumah saudara, memohon restu demi suatu keputusan besar untuk masa depan.

Memilih Universitas dan Jurusan di Jepang

Untuk jurusan yang diinginkan, aku memilihnya sejak pengisian formulir beasiswa Monbukagakusho ketika pertama kali apply di Indonesia.

Untuk penerima beasiswa S1, sebelum masuk ke universitas Jepang, mereka akan digembleng satu tahun program belajar Bahasa Jepang di Osaka/Tokyo University of foreign studies. Kedubes Jepang yang akan menentukan di mana mereka akan belajar bahasa, apakah di Osaka University of foreign studies, atau di Tokyo University of foreign studies.

Nah, penentuan masuk universitasnya akan ditentukan melalui “nilai selama 1 tahun” belajar Bahasa Jepang di Osaka/Tokyo University of foreign studies. Peserta program ini memilih 6 universitas di Jepang yang disukai. Kalau nilai Anda bagus, Monbukagakusho akan merekomendasikan Anda ke universitas- universitas unggulan seperti Todai (Tokyo Daigaku/Tokyo University), Tokodai (Tokyo Kogyo Daigaku/Tokyo Institute of Technology), Kyodai (Kyoto Daigaku/Kyoto University), dll. Bila Anda diterima di universitas yang bersangkutan, maka tahapan selanjutnya adalah wawancara, yang dilakukan di universitas. Jadi peserta program ini tidak perlu mengikuti ujian masuk yang diadakan universitas-universitas di Jepang.

Gambar 5. Berfoto di saat musim semi di kampus Tokyo Institute of Technology (TIT).
***

Memang, sekarang aku tidak usah repot-repot lagi memikirkan biaya kuliahku ataupun biaya hidupku di Jepang, karena Allah telah memberiku kesempatan belajar di negeri ini dengan fasilitas beasiswa Monbukagakusho.

Yah, bagi para penerima beasiswa Monbukagakusho, seharusnya keuangan bukanlah suatu masalah yang besar. Mereka diberi tunjangan sebesar 134.000 yen per bulan. Bayangkan, cukup dengan bernafas saja, para penerima beasiswa diberi uang sekitar 75 yen per menit, atau setara dengan Rp 6.000, uang yang cukup untuk biaya sekali makan enak di kantin Mesjid Salman ITB.

Sungguh, betapa mahalnya tarif bernafas per menit dari para penerima beasiswa Monbukagakusho. InsyaAllah dengan tunjangan sebesar itu, cukup untuk membiayai kehidupan selama satu bulan di Tokyo, kota termahal di dunia.
***
Sangat mengharukan dan mendebarkan bila aku mengingat masa-masa perjuanganku untuk meraih beasiswa. Penuh pengorbanan, penuh keringat, dan penuh lelah. Tapi itulah yang disebut tantangan dan perjuangan.

Tantangan tidak akan teratasi kalau kita hanya mengeluh dan mengaduh. Tapi tantangan hanya bisa kita atasi dengan berjuang dan berusaha sebaik mungkin. Prinsip yang sedang, dan akan terus aku pegang sampai akhir hayatku nanti. Berjuang di sini, di Negeri Seribu Gempa, demi satu tujuan pasti dan harga mati negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI)..Merdeka!!

Tokyo 2008.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *