Kesan Para Professor Tamu Terhadap Event ACIKITA International Conference on Science and Technology

Setelah mengikuti kegiatan ACIKITA, banyak Prof bercerita kepada muridnya. Alhamdulillah mereka sangat terkesan dengan acara dan persembahan yang dihadirkan oleh para aktivis ACIKITA, dan ACIKITA Kids. Misalnya betapa khidmatnya lagu Indonesia raya dinyanyikan, betapa menggugahnya mars ACIKITA, betapa memanggil kepedulian lantunan paduan suara oleh ACIKITA Kids yang dilengkapi dengan puisinya. Betapa terlihat kekaguman mereka pada tari dan kesenian daerah yang dihadirkan.

Kami yang hadir di lokasi pun menerima ungkapan kagum para prof tersebut. Mereka juga sangat antusias mengambil foto dan vidio sebagai dokumentasi kegiatan.
Terhadap nyanyi dan puisi yang ditampilkan, walaupun mereka tidak mengerti maknanya, tapi karena sudah tahu bahwa organisasi ACIKITA berjuang untuk perbaikan di Indonesia, maka mereka tahu bahwa makna yang tersirat adalah sangat dalam, dari keinginan orang-orang muda Indonesia.

Bahkan di antara mereka mengatakan, “Seakan saya merasakan perjuangan hebat para pemuda Indonesia diera 45 merebut kemerdekaan (Redaksi Prof Naota, Osaka Univ. )
Untuk kegiatan ilmiah yang kami hadirkan, mereka umumnya hadir untuk mendengarkan presentasi setiap keynote speaker lainnya. Mereka tidak hanya ada di dalam ruangan pada saat dirinya presentasi. Betapa ia sangat merasa haus akan ilmu yang berbeda dengan ilmunya. Tidak pernah berucap, ini bukan bidang saya maka bagi saya tidak butuh.

Keakraban dan perbincangan dengan para peserta, dan dengan panitia juga terjalan baik. Makanan apa pun yang kami hadirkan selalu dibilang sangat enak, dengan wajah yang serius dan bukan mengada-ada. Pada saat kegiatan rekreasi, mereka para orang pintar itu mau naik becak, naik angkot, naik bajai, makan di kaki lima dan emperan, beli gorengan pun, dilakukannya bersama-sama dengan yang aktivis yang menggaetinya. Bahkan seorang Prof dari Osaka Univ sangat ingin melakukan sholat berjamaah di setiap waktu sholat. Ingin mengunjungi mesjid yang termegah atau terbesar. Dan beliau pun membeli kopiah, dipakainya selalu sejak ia beli hingga terakhir berpisah dengan kami yang mengantarkannya.
Subhanallah!

Sangat banyak panitia yang berucap, ”Baik sekali ya Mba Prof nya? Suka menyapa dan mau ditanyai apa saja, Subhanallah!”

Acara pembukaan dan penutupan komplit dengan kesenian, tari-tari daerah. Alhmadulillah kami juga mempekenalkan tingginya dan beragamnya budaya Indonesia. Ini artinya banyak potensi hebat dari manusia Indonesia (penilaian di mata mereka).

Para Prof benar-benar mau terlibat dalam mensukseskan program yang kami buat. Mereka betah menjaga stand untuk melayani setiap pengunjung yang bertanya. Juga para Prof ikut memberikan presentasi bersekolah di luar negeri. Prof Yoshikawa dari Tokyo Institute of Technology, sengaja memperlihatkan vidio kehidupan kampus dan kehidupan di luar kampus selama di Jepang. Sungguh sangat luar biasa supportnya.

Kami meyakini tentu banyak kekurangan pada acara kami, misalnya potensi panitia yang bahkan masih anak SMA, D3, S1 dan S2. Tapi di mata mereka adalah event hebat yang tak pernah ada di dunia.

“Panitia International Conference biasanya para doktor minimal, tapi ini SMA? Luar biasa, bisa jadi cambuk untuk mereka lebih maju.” Ungkap para Prof yang datang.

Memang diakui panitia di lapangan begitu adanya, hanya beberapa orang panitia di dunia maya yang sudah doktor.

Kembali ke tanggapan Prof di atas, mereka selalu menganalisis suatu hal dari poin positif. Mereka berupaya menghibur dan mensupport lawan bicara, menyenangkan hati lawan bicara. Bukan malah mencaci maki atau malah melecehkan suatu karya yang sudah dilakukan dengan perjuangan. Begitulah cara berpikir orang yang maju.Sangat berbeda dengan cara tanggap Prof di Indonesia yang pernah mengatakan,

“Event gado-gado apa ini yang dibuat ACIKITA?”
“Apakah kalau kami mengikuti event ini sertifikatnya diakui oleh Dikti?”
“Apakah cum-nya (baca kum) bisa digunakan untuk kenaikan pangkat?”

Hal yang saya tulis di atas adalah pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan langsung oleh seorang Prof kepada saya, yang jujur saja membuat hati ini ciut. Merasa tidak dihargai, dan dicemburui. Ya namanya juga manusia, kita punya emosional di dalam diri. Tapi akhirnya saya sadar, bahwa aktiv di ACIKITA sekaligus bisa melatih kesabaran.

Kami mengangkatkan kegiatan konferensi Internasional ACIKITA ada latar belakang berpikirnya. Ada maksud dan tujuan yang ingin kami capai. Bukanlah suatu event gado-gado seperti yang dimaksudkan. Kami ingin memanggil anak bangsa yang berkarya, meneliti, dan belajar di luar negeri, untuk mau pulang ke Indonesia dan berbagi informasi riset terkininya dengan saudara sebangsa dan setanah air, untuk kemajuan pendidikan dan riset di tanah air. Diharapkan mereka yang mempunyai bidang riset yang beririsan, bisa bekerjasama dengan baik ke depannya.

Selain itu kami juga ingin mengajak anak bangsa yang ingin berjuang bersama, untuk ikut bergabung di ACIKITA.

Banyak sekali manfaat di balik event yang kami lakukan. Kami selalu mengadakan kuis kepada peserta. Meminta penilaian dan masukan dari peserta. Hampir 95% lebih mengatakan kekagumannya dan kepuasannya pada event yang kami angkatkan.
“Acaranya keren, pantas diadakan setiap tahun.”
“Para pembicaranya sangat bagus, presentasinya sangat menarik!”

“Para pakar hebat di luar negeri menghargai apa yang kami lakukan. Mereka sangat mengapresiasi dan menghargai undangan kami, setelah kami paparkan maksud dan tujuan kegiatan dilakukan. Bahkan semua mereka mau datang dengan dana pesawat pribadi mereka.”
Subhanallah, subhanallah. Tak tanggung-tanggung support yang kami terima.
Semua ini terjadi benar benar dari pertolongan Allah. Karena dari 7 orng yang hadir Agustus lalu, hanya satu orang yang saya kenal. Prof yang lain dari informasi teman dan mencari di list Japan Science and Technology, siapa yang dapat award, lalu kami undang.

Makin berjuang, makin kami tahu dengan warna-warni dan tingkah para manusia. Memang inilah adanya kondisi Indonesia, sulit untuk memberikan support untuk kemajuan bangsa sendiri. Sulit untuk memuji orang lain. Merasa tidak enak ketika orang lain maju dan berkarya. Kami berbuat bukan mencari ridho manusia, tapi mencari ridho Allah. Sungguh tak mungkin menyenangkan hati seluruh insan. Tidak mungkin!

Seorang bapak dan anaknya berjalan dengan mengiringi onta. Manusia berucap,

“Duh bodohnya orang ini ada unta tapi dia berjalan aki.”
Kemudian Bapaknya menggendarai unta, “Duh Bapak nggak tahu diri, dia enak-enak di atas unta, anaknya disuruh berjalan kaki.”
Kemudian anaknya disuruh naik, “Anak yang nggak tahu diri, Bapaknya disuruh berjalan kaki.”
Terakhir mereka berdua menaiki unta, “Duh manusia tak punya pikiran, onta yang kecil, dinaiki berdua.”

Jadi bila omongan manusia yang dipikirkan, maka kita tak akan pernah benar. Tapi tetap perlu mendengarkan masukan dan kritikan orang sebagai bahan pelajaran dan memperbaiki diri. Dan yang pasti dengan adanya ungkapan tidak sedap, kita bisa memilah-milah dan mengelompokkan manusia, mana yang bisa diajak berjuang berjamaah, dan mana yang tidak bisa diajak berjuang bersama.

Tapi kami akan terus berjuang dan berjuang, walau apapun support dan bentuk apresiasi dari saudara sebangsa dan setanh air ini.

“Mestinya setiap anak bangsa merasa ikut punya tanggjung jawab moril men-support event yang benar-benar diadakan untuk kemajuan ummat ini, kalau kita memang ingin maju dan keluar dari krisis penguasa yang hanya menghabiskan uang rakyat, tanpa serius bekerja untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat Indonesia.”

Berbedanya cara berfikir kita dengan mereka didasarkan oleh perbedaan sistem pendidikan yang kita terima. Sistem pendidikan mereka benar-benar menanamkan ajaran moral sejak dini. Menempatkan diri pada posisi orang lain, menghargai karya orang lain, dst, adalah suatu hal yang wajib harus dilakukan oleh mereka, dan bukan berlebihan untuk memberkan apresiasi kepada orang lain. Tapi dalam sistem pendidikan kita, murid-murid sejak dini diajarkan sains, berhitung, dan berbahasa asing, sedangkan ajaran dan penempaan moral tidak merupakan fokus uatama secara nasional. Akhirnya kita lihat dampaknya, menjadi masalah di saat manusia Indonesia dewasa, dimana masing-masing insan membawa prilaku moral sesuai yang dia inginkan.

Semoga ada banyak pihak yang setuju untuk memantapkan ajaran moral sejak dini di sekolah sekolah dan di lungkungan keluarga untuk perbaikan kualitas generasi manusia Indonesia masa depan. Aamiin YRA.

wassalam
Pengurus ACIKITA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *