Kendala yang Ditemui oleh Ibu yang Bersekolah

Oleh : Jumiarti Agus

Di sini ini akan dibahas semua kendala yang pernah ditemui oleh Ibu-ibu yang bersekolah. Penuturan ini diharapkan bisa menjadikan masukan bagi kaum ibu yang ingin untuk melanjutkan sekolah. Bila ada kesempatan untuk melanjutkan sekolah, keadaan memungkinkan, dan ada dukungan keluarga, maka tidak ada salahnya Anda untuk melaksanakan niat baik tersebut.

Penuturan di sini dimaksudkan agar Anda siap secara fisik dan mental untuk menghadapi perjuangan berat yang akan ditempuh. Namun walau bagaimanapun beratnya kondisi yang dialami, dengan adanya dukungan dan kerjasama yang baik dari pasangan, dan dengan pertolongan Allah, insyaAllah usaha Anda akan berhasil dengan baik. Berusaha dan berdo’a itulah tugas kita sebagai makhluk-Nya.

Beberapa masalah dapat dituliskan sebagai berikut:
1. Masalah ekonomi
2. Perbedaan usia dengan teman sekelas
3. Masalah bahasa
4. Punya Profesor yang berbeda background dengan kita
5. Punya pembimbing muda Mosi tak percaya
6. Terlambat tamat dibanding student yang lain
7. Perbedaan culture dan agama
8. Perbedaan sistem Pendidikan
9. Ganti Metoda
10. Ganti Profesor
11. Situasi, stabilitas dan keamanan dalam negeri Indonesia
12. Perbedaan Iklim
13. Hamil dalam Masa Studi
14. Ketika Punya Bayi Sambil Tetap Bersekolah
15. Mengadaptasikan Anak di lingkungan baru
16. Keadaan yang Tidak Beraturan di Rumah

Nah bagaimana trik untuk mengatasinya? InsyaAllah kami telah berbagi dalam buku Menggapai Cita dalam Cinta Why Not? Kisah para Ibu yang bersekolah di luar negeri dengan tetap mengutamakan mengurus keluarga dan anak-anaknya.

Masalah Ekonomi Ketika Bersekolah di Negeri Orang

Tak kalah pentingnya masalah yang dihadapi oleh mahasiswa yang bersekolah di luar negeri adalah masalah ekonomi. Bagi mereka yang datang dengan beasiswa mungkin enak, karena biaya hidup dan uang sekolah tak perlu mikir, tugas utama adalah belajar saja. Namun lain halnya dengan mereka yang tidak mempunyai beasiswa, tentu faktor ekonomi merupakan salah satu kendalanya.

Seperti yang dialami oleh Mba Fitri dalam buku MCDC Why Not? (ACIKITA Publishing 2007), untuk bisa melanjutkan sekolah ke jenjang doktor, suaminya harus berjuang untuk part time (kerja paruh waktu), guna mendapatkan dana untuk mendaftar masuk university. Padahal saat itu sang suami sudah berada di tahun pertama doktor.

Sistem sekolah di Jepang, mulai dari SMA hingga kuliah, harus membayar. Sekolah di Jepang hanya gratis untuk usia wajib belajar saja, dan itu bagi orang yang belajar di sekolah pemerintah. Usia wajib belajar berkisar dari SD hingga SMP kelas 3.

Namun untuk sekolah di Jepang asalkan ada kemauan, insyaAllah jalan akan terbuka. Biaya kuliah di Jepang memang mahal. Namun, dengan adanya sistem dan aturan yang jelas, seseorang yang ingin sekolah tetap akan dapat mewujudkan cita-citanya. Ada keringanan bagi mereka yang tidak sanggup membayar uang sekolah. Reduksi uang sekolah berkisar dari 50% hingga 100%, sesuai dengan keadaan ekonomi mahasiswa yang bersangkutan.

Namun untuk masuk pertama kali, setiap orang harus membayar uang masuk. Tetapi calon mahasiswa dapat mengajukan reduksi uang masuk. Saya pun dulunya mendapat reduksi 50% ketika masuk sekolah di Tokyo Institute of Technology) TIT. Dan pembayaran uang masuk tidak harus dibayarkan ketika kita mendaftar. Bila sulit membayarnya pun, bisa mengajukan cicilan pembayaran.

Disamping itu, bila sekolah di university yang cukup terkenal, biasanya banyak beasiswa yang dapat di-apply. Tinggal keseriusan kita untuk mengajukan beasiswa tersebut. Informasi beasiswa ada di bagian international student office masing-masing university, bukan didapat dari Profesor. Bila kita rajin untuk melihat informasi dan berusaha mengajukan aplikasi beasiswa, tentu harapan untuk mendapatkan beasiswa itu ada, karena jumlah dan jenis beasiswa itu sangat banyak sekali.

Saya sendiri juga pernah mendapatkan kesempatan menerima beasiswa, namun Profesor saya menilai bahwa saya tidak berhak untuk mendapatkan beasiswa dengan alasan suami mempunyai penghasilan yang baik.

Lain halnya dengan kuliah di Swedia, yang tidak dipungut biaya, seperti yang dikisahkan oleh Wati di dalam buku MCDC, Why Not? ”Di Swedia pendidikan untuk semua kalangan gratis sejak Taman Kanak-kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi (PT) S2. Bahkan semua mahasiswa S3 mendapat gaji. Tidak terbatas pada Profesor yang punya project saja. Kuliah di Swedia memang tidak ada pungutan biaya sedikitpun, baik untuk mahasiswa tamu maupun bukan.”

Jadi untuk sekolah di negara asing, sungguhpun kita harus membayar uang sekolah, namun banyak beasiswa yang bisa di-applay. Juga untuk pembayaran uang sekolah ada keringanan yang bisa diajukan, seperti yang diutarakan di atas. Disamping itu bila kita ingin part time, juga bisa dilakukan untuk mendapatkan uang dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Namun untuk Ibu yang bersekolah dan mempunyai anak, saya tidak merekomendasikan untuk melakukan part time, karena terlalu banyak job yang harus dilakukan. Kecuali kalau part time-nya mengajar Bahasa Indonesia atau men-translate, karena pekerjaannya bisa dikerjakan lebih fleksibel di rumah.

2. Perbedaan usia dengan teman sekelas ketika sekolah di luar negeri
Di beberapa negara, sekolah dan punya anak memang merupakan suatu hal yang tidak lazim, misalnya saja di Jepang. Saya selama sekolah di Jepang belum pernah melihat mahasiswa Jepang yang hamil semasa sekolah atau kuliah. Mereka kebanyakan sekolah di usia muda, misalnya tamat S1 usia 22 tahun, tamat S2 dalam usia 24 tahun. Dan bila mereka melanjutkan S3, tamat dalam usia 27 tahun. Ini disebabkan oleh sistem pendidikan di Jepang. Sekolah di Jepang telah di set dalam aturan yang jelas, sehingga mahasiswa S1 harus tamat dalam waktu 4 tahun, S2; 2 tahun dan S3 dalam waktu 3 tahun. Bahkan untuk saat ini ada program percepatan, S2 dan S3 bisa diselesaikan dalam waktu 4 tahun.

Begitu juga halnya dengan sistem pendidikan di Australia, mereka umumnya sekolah di usia muda.

Dengan demikian, bagi Anda yang akan sekolah, harus paham dengan sistem yang berlaku di negara tujuan. Bila ternyata terjadi perbedaan usia, sebaiknya jangan menjadikan rasa minder atau malu untuk bersahabat dengan mereka, dan untuk mendapatkan pertolongan dalam hal akademis dari mereka.

Cara lain untuk menghindarkan masalah ini terjadi, sebaiknya kaum Ibu juga sekolah di kala masih muda. Bila Anda mempunyai profesi yang menuntut peningkatan keilmuan, misalnya dosen atau tenaga peneliti, maka sebaiknya gunakanlah kesempatan untuk sekolah sedari dini. Tentu bila kondisi memungkinkan.

Namun bila belum ada beasiswa atau kesempatan, dan baru bisa sekolah diusia yang lebih dewasa, sebaiknya tak usah terlalu dipikirkan masalah rentang usia dengan teman seangkatan. Ingatlah kembali kalau tujuan Anda sebenarnya untuk sekolah. Dan jangan patah semangat melihat teman yang lebih muda. Anda harus pintar memanfaatkan momen, justeru bergaul dengan yang muda-muda mempunyai seni tersendiri. “Lakukanlah yang terbaik,” itulah slogan yang sebaiknya dibuat untuk memotivasi diri.

Namun di negara lain misalnya di Swedia, tidak ada batasan umur untuk kuliah, misalnya saja yang dikisahkan oleh Wati, ”Mereka orang Swedia baru mulai kuliah umur sekitar 25-26 th. Karena tidak ada batasan umur kuliah, maka tidak jarang teman satu kelas orang yang berumur 40 tahun yang kuliah lagi karena mereka ingin pindah karir atau hanya karena tertarik suatu mata kuliah saja. Bahkan orang yang sudah pensiun juga kuliah lagi dengan alasan ingin mengetahui lebih dalam tentang suatu hal, misalnya tentang astronomi atau sejarah.”

Jadi silahkan Anda mempelajari sistem di negara tujuan, untuk mengetahui bagaimana gambaran teman nantinya di sekolah. Apakah lebih muda atau bahkan lebih tua. Namun saya yakin manusia Indonesia yang terkenal ramah dan suka berteman tak terlalu sulit untuk bergaul dengan mereka bangsa asing lainnya.

3. Masalah bahasa
Bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi, menyampaikan maksud, keinginan, dan keterangan kita kepada seseorang. Walaupun bahasa Inggris merupakan bahasa International, maka tak jarang penduduk di suatu negara (yang tidak menggunakan bahasa Inggris) tidak lazim menggunakan Bahasa Inggris dalam berkomunikasi. Misalnya di Jepang, Jerman atau Swedia, penduduknya cenderung menggunakan bahasa mereka.

Saya tidalak punya kemampuan berbahasa Jepang yang baik, sehingga pada saat laporan dan seminar mingguan, saya tidak begitu mengerti dengan diskusi yang dilakukan. Saya merasa sangat sedikit sekali masukan yang saya terima dari pihak lain, karena tidak bisa berdiskusi dengan mereka (Japanese). Disamping itu, di lab saya, hanya saya sendiri student asingnya. Sehingga saya tidak punya teman diskusi selain dengan suami, dan itu pun terbatas.

Kegiatan riset saya yang membutuhkan banyak waktu di lab, dan sibuk melakukan setiap tahapan kegiatan, sehingga saya tidak punya waktu untuk belajar Bahasa Jepang.

Begitu juga yang saya alami, ketika saya melakukan research student di Shizuoka University. Teman kerja saya tidak mengetahui prinsip kerja genetic. Karena keterbatasan bahasa Jepang saya atau Bahasa Inggris dia, maka kami tak bisa berkomunikasi mulus. Bisa dibayangkan bagaimana suasana hati yang tak tersuarakan, walaupun saya menyuarakan dalam Bahasa Inggris namun beliau tidak mengerti baik. Begitu juga sebaliknya.

Wati di Swedia, juga mengaku punya kesulitan untuk bisa memahami dan menggunakan bahasa Swedia, ”Saya membutuhkan usaha 2 kali lipat dibanding teman-teman yang asli Swedia untuk mengerti suatu materi. Saya tidak memilih kelas internasional karena saya tinggal di Swedia dan berharap suatu saat bekerja di Swedia.”

Di Swedia walaupun bahasa Inggris dikuasai oleh sebagian besar penduduk Swedia, tetapi itu masih bukan bahasa sehari-harinya. Dengan kuliah memakai bahasa pengantar Swedia lebih memudahkan untuk memperdalam bahasanya.

Penuturan ini mengingatkan betapa pentingnya untuk menguasai bahasa negara di mana kita bersekolah. Justeru itu saya sarankan kepada anda yang ingin sekolah di luar negeri, berusahalah untuk mempelajari bahasa setempat. Sehingga kesulitan yang pernah dialami oleh penulis di sini tidak diulang kembali oleh yang lain. Bila bisa menguasai bahasa setempat dengan baik, tentu akan mudah dalam berkomunikasi, diskusi dan menyelesaikan setiap persoalan. Sebaiknya dari pertama datang bikinlah jadwal untuk belajar bahasa, jangan langsung sibuk dengan riset.

4. Punya Profesor yang berbeda background dengan kita
Di Jepang tidak aneh kalau Profesor kita mempunyai background yang berbeda dengan kita. Biasanya dengan dana yang ada, Profesor bisa membayar tenaga Postdoct untuk mengerjakan risetnya. Bahkan banyak Profesor yang mendapatkan informasi baru dari riset yang dilakukan. Namun Profesor tetap saja mempunyai kemampuan untuk memenej riset dengan baik.

Begitu juga halnya dengan Profesor saya pertama di Shizuoka, beliau jujur mengatakan tidak punya background genetic engineering. Tapi dia ahli pada proses engineering. Namun saat itu penelitian dengan menggunakan genetic engineering baru beliau lakukan. Kebetulan saya datang dan melakukan riset genetic engineering. Ya, sebagai pendatang baru dan bekerja sendirian tentu mempunyai kendala juga. Bila ingin berdiskusi saya harus mencari teman ke lab lain. Dan sistem di Jepang, bukan seperti di Indonesia, kita bisa nebeng masuk ke lab lain untuk berdiskusi sepuasnya. Di Jepang jarang sekali seperti itu, bila ingin banyak berbicara sebaiknya tidak dilakukan di dalam lab.

Untuk mengatasi hal ini, saya harus pandai-pandai mencari teman atau sensei lain untuk berdiskusi. Disamping itu saya menyarankan untuk melakukan kontak dengan orang Indonesia yang melakukan riset yang mirip dengan kita, walaupun dari university yang berbeda. Sehingga kita dapat berdiskusi lebih banyak.

Bila ingin tidak repot, maka dari awal sebaiknya mencari Profesor yang punya background sesuai dengan keahlian atau bidang khusus yang ingin kita pelajari.

5. Punya pembimbing muda
Punya pembimbing penelitian yang muda, kadang sungguh tidak enjoy. Beliau sering memberikan warning, dan membatasi ruang gerak di lab. Untuk itu kepada yang berniat sekolah di luar negeri, sedapat mungkin carilah Profesor yang senior. Karena lebih dewasa dan profesional dalam membimbing mahasiswa asing, lebih matang dan banyak memaklumi.

7. Mosi tak percaya
Pengalaman saya sebagai seorang yang datang dari negara berkembang, dengan riset biotekhnologi atau genetic engineering-nya belum sebagus di negara maju misalnya Jepang, maka ada keraguan beliau terhadap hasil kerja yang saya dapatkan. Apalagi saya masuk ke dalam lab Profesor terkenal. Jadi mosi tak percaya itu pernah saya alami.

Kuncinya bekerjalah yang baik, tunjukan hasil yang baik, untuk menepis semua ini. Mereka tak hanya percaya dengan kata-kata pembelaan dari kita. Tapi mereka butuh bukti, maksudnya data yang kita hasilkan. Taklukkanlah mereka melalui hasil experiment kita di lab. Tunjukanlah kemampuan personal kita.

8. Terlambat tamat dibanding student yang lain
Pengalaman pribadi saya, saya telat satu tahun dibandingkan student lainnya. Mulai awal Juni 2002 hingga Maret 2003, saya cuti dari sekolah, karena saya harus mengurus Najmi di rumah. Saya tidak terikat beasiswa, sehingga saya dapat mengajukan cuti untuk masa yang panjang.

Selama cuti, saya berusaha konsentrasi mengurus bayi, dan mencari sekolah buat Najmi. April 2003 saya mulai aktif sekolah lagi, namun di saat itu saya kembali terhitung sebagai mahasiswa doktor tahun pertama atau istilahnya D1. Alhasil saya telat satu tahun untuk menyelesaikan study saya.

Bagi saya, target utama bukanlah riset lagi, tapi lebih baik fokus di anak dulu. Karena saya merasa sudah berbeda dengan student lainnya. Saya pikir, Ibu yang bersekolah, mempunyai nilai tambah yang tidak dipunyai oleh student lain, sehingga telat study pun tidak membuat saya malu dan risi. Namun hal yang saya ungkapkan, tidak berarti menyarankan Anda untuk bermalas-malasan dan terlambat menyelesaikan study.

Jadi bagi Ibu yang punya anak atau hamil saat study, sedari dini sebaiknya tahu akan hal di atas. Dan siap menerima bila harus telat untuk menyelesaikan study. Terutama bagi Ibu yang hamil, dan melahirkan pada saat study, kemungkinan untuk telat kelarnya semakin besar. Kita tidak mungkin untuk kebut jikken (experiment) untuk mendapatkan data dan bisa publish paper di jurnal international. Kecuali mungkin bagi Ibu yang mengambil disiplin ilmu yang tidak membutuhkan experiment di lab, karena riset bisa dilakukan di rumah.

9. Perbedaan culture dan agama
Bagi yang ingin sekolah ke luar negeri, pelajarilah budaya orang setempat. Dan saya usulkan bila Anda mempunyai Professor yang ingin untuk cepat dekat dengan mahasiswa, sebaiknya aktiflah untuk bertanya. Misalnya, ketika Anda pertama kali disuruh untuk mempresentasikan riset yang pernah dilakukan di Indonesia, maka sebaiknya bertanyalah, “Apa yang harus saya lakukan Sensei?” Jangan menunggu seseorang untuk mengerjakan persiapan untuk latihan presentasi Anda. Apalagi di Jepang dan mungkin juga di negera lainnnya, setiap insan dituntut untuk mandiri. Hal ini saya paparkan agar Anda sudah punya kesan baik di mata Profesor, sejak awal bergabungnya Anda di labnya.

Perlu dicatat bahwa sekolah di Jepang sangat dituntut kemandirian personal. Semua student harus bisa mengoperasikan alat apa saja sendiri.

******
Agama yang berbeda sedikitnya memberikan gap atau jarak untuk bergaul dekat dengan teman satu lab. Misalnya saja seperti di Jepang, tradisi nomikai/party sangat populer sekali. Acara ini merupakan suatu kesempatan untuk berbicara santai antara Profesor dengan student dan sesama anggota lab. Kerap kali diadakan party oleh Profesor. Misalnya ada anggota baru di lab, ada yang telah selesai ujian dan bila ada momen yang spesial. Acaranya terkadang dilakukan di lab, atau di tempat tertentu. Sebelum acara telah ada panitianya dari anggota lab, untuk memesan tempat atau restoran, dan untuk mengumpulkan dana yang dibutuhkan. Setiap yang ikut harus membayar sendiri. Bahkan setiap akhir tahun ada acara besar atau party besar yang diadakan oleh Profesor dengan semua anggota lab, beserta alumni dari lab tersebut. Acaranya jauh hari telah dirancang dan bahkan telah ada dalam kalender kegiatan tahunan Profesor.

Saya memandang acara itu bagus, karena merupakan ajang untuk silaturrahmi dan saling bertukar informasi. Apalagi sistem di Jepang, mereka umumnya cenderung serius di lab. Sebenarnya bukan serius belajar terus, ada juga yang sempat melihat-lihat tempat shopping pakaian (bagi wanita), atau mobil bagi pria. Bahkan ada juga yang tidur di lab, caranya kepala ditundukan di atas meja dalam posisi duduk. Maksud saya bila di lab mereka sibuk sendiri, dan tertutup, tidak ramah seperti di lab lab kita, di mana setiap insan masih bisa bercengkrama sembari melakukan riset.

Walaupun sebenarnya bila kita bilang perlu bantuan, mereka sangat care membantu. Namun kegiatan rutin setiap hari menunjukan aksi yang tidak bersahabat. Padahal sebenarnya mereka baik, namun tertutup. Tetapi memang tidak seluruhnya demikian, beberapa masih ada yang sangat tertarik dengan orang asing, terutama bagi mereka yang pernah ke luar negeri. Golongan ini bisa lebih ramah dan sangat perhatian.

Namun bila ada acara saya selalu menyampaikan bahwa saya tidak bisa ikut, karena alas an agama. Ditambah lagi acara itu kebanyakan sore hari dan berbarengan dengan jadwal saya menjemput anak di sekolahnya.

10.Perbedaan sistem Pendidikan
Perbedaan sistem pendidikan antara Indonesia dengan negara tempat kita belajar, juga merupakan salah satu faktor kendala.

Di Jerman, Mba Angky berucap “Bila berpikir mundur, ke masa-masa pertama kali kuliah di Jerman tahun 1987 dulu, saya dulu tidak jarang merasa terlambat dalam mengerti dan menganalisa persoalan dibandingkan teman-teman kuliah yang Jerman asli. Tentu saja hambatan utama bagi saya adalah bahasa, namun lebih dari itu, saya merasa ada keganjilan lain yang lebih dalam. Dengan berjalannya waktu, baru saya sadari bahwa teman-teman kuliah Jerman saya diuntungkan juga oleh kelebihan sistem pendidikan pra-kuliah mereka. Sistem pendidikan yang membiasakan mereka turut berfikir, turut berbicara, turut menganalisa, turut berdiskusi dan turut aktif mendengar sebuah persoalan. Sehingga tak jarang ditemui mahasiswa Indonesia yang terlambat menyelesaikan study-nya di Jerman.”

Saya juga merasakan hal yang dialami Mba Angky, saat studi di Jepang. Sistem pendidikan di Jepang, dari SD murid-murid telah dilatih untuk mengeluarkan pendapat, dan belajar mengemukakan ide.

Bila di university Jepang, setiap minggu ada forum untuk melaporkan hasil kerja dan presentasi jurnal. Ini berlaku umum di seluruh Jepang, baik di university atau pun di lembaga penelitian. Setiap anggota lab bergantian memberikan laporan dan presentasi. Namun semua harus ikut dan wajib hadir karena pertemuan itu dihitung 1 SKS. Akibatnya untuk presentasi satu jurnal ilmiah yang dipilih, maka harus belajar sampai detil. Dengan begitu mereka menerima banyak informasi, karena setiap minggu ada yang mempresentasikan paper. Mereka juga bebas bertanya hingga detil.

******

Hal lain yang harus diketahui bila study di Jepang, Anda harus tahu bahwa lab adalah rumah kedua. Semua buku-buku ataupun hasil kerja disimpan di lab. Untuk di lab saya, mahasiswa wajib ada mulai dari jam 9.30 pagi hingga jam 5 sore. Ini batasan minimal harus ada di lab. Jadi bila mau berpergian untuk satu keperluan harus berangkat dari dan pulang ke lab. Namun tak jarang mahasiswa meninggalkan lab hingga tengah malam. Pulang ke rumah hanya untuk tidur saja. Malah ada lab yang buka 24 jam, misalnya lab bioscience.

Bila ingin sekolah di Jepang, Anda harus punya waktu lama di lab, baik untuk jurusan yang butuh penelitian maupun jurusan sosial. Profesor tidak senang melihat student-nya yang suka pulang cepat. Dan tradisi anak Jepang, beliau akan meninggalkan lab setelah Profesornya pulang.

Jadi untuk studi di negara tertentu ketahuilah sistem yang berlaku di negara tersebut, khususnya di lab yang akan dimasuki.

11. Ganti metoda
Permasalahan lain adalah ganti metoda untuk riset. Ini pernah dialami oleh Yessi seperti yang ia tuturkan di dalam buku MCDC Why Not?

“Awal tahun pertama, Sensei saya mengajukan suatu topik dengan metoda analisa matematik murni. Pemodelan pergerakan gelombang dan arus laut dilakukan dengan penjabaran dari teori matematik murni. Teori ini tidak saya pelajari semasa kuliah S1 dan S2 saya di Indonesia. Maka di tahun pertama, sebelum mempelajari kasus pergerakan gelombang, saya mesti mempelajari teori analisa matematik murni tersebut. Namun akhirnya Yessi harus ganti metoda, sehingga dia harus belajar lagi hal baru dari awal. Ini artinya membutuhkan banyak waktu.

Semoga yang akan sekolah tetap semangat kalaupun harus mengganti metoda di tengah risetnya. Kalau memang itu keputusannya, lakukanlah dan jangan merasa sedih yang mendalam. Karena yang lain pun pernah mengalaminya. Namun semoga tidak terjadi, dan tidak membuang waktu.

12. Ganti Profesor
Banyak pelajar yang harus mengalami ganti pembimbing di tengah study-nya. Kerugian ganti sensei, mungkin lebih ke arah cara membimbingnya. Associate Profesor, masih mau mengajarkan materi, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai riset. Menurut curhat teman, “Dengan Profesor yang sekarang, dia hanya mengontrol hasil. Ia tidak mau mengajarkan materi.”
“Yang student itu kamu, bukan saya. Kamu yang mesti belajar,” beliau berkata demikian.

Saya pun pernah mengalami ganti Profesor, karena Profesor saya pindah ke Riken. Ya banyak kekecewaan yang dialami, baik dalam masa studi maupun ketika ujian. Ketika presentasi dan ujian, saya berjuang sendiri, tanpa bantuan dari Profesor pengganti. Ketika saya tidak mengerti pertanyaan dalam bahasa Jepang yang di sampaikan oleh Profesor penguji, saya tidak dibantu. Sehingga saya hanya bisa menerka pertanyaan dan menjawab semaksimal mungkin. Untung beberapa Profesor mengerti saya, sehingga beliau bertanya dalam bahasa Inggris.
Ya, mungkin Profesor pengganti sendiri kagok dengan jabatannya sebagai Asisten Profesor, sementara penguji yang hadir lebih tinggi jabatannya.

Mungkin yang akan sekolah dapat mempersiapkan mental bila harus menemui keadaan yang seperti ini. Karena walaupun dari awal kita telah memilih Profesor yang mapan dan tidak mungkin pindah, tapi tiba-tiba dia bisa saja dipindahkan atau diminta untuk memimpin departemen, seperti Profesor saya.

Tapi saya berharap semoga Anda mempunyai jalan mulus untuk menyelesaikan study-nya. Penuturan di sini bukan membuat mundur langkah Anda, tapi memperkuat mental untuk siap menghadapi semua kendala. Sehingga sekali melangkah untuk sekolah, semoga berbuah sukses hendaknya. Amiin.

Situasi, stabilitas dan keamanan dalam negeri Indonesia
Pengalaman saya, situasi di tanah air sendiri sering mempengaruhi ketidaknyamanan berada di luar negeri, di mana kita bersekolah. Misalnya ketika Tsunami, gempa, bom, beberapa waktu lalu yang menimpa negeri tercinta Indonesia yang sempat di sorot masyarakat international. Ada sedikit rasa malu dengan situasi di negara yang tidak aman, dan rasa sedih atas bencana yang menimpa Indonesia.

Ketika ketemu seseorang di lift, dengan busana Islami yang saya gunakan, mengundang orang Jepang untuk bertanya ,
”Kuni wa doko desuka? (negaranya dimana?) ”
”Indonesia desu (Indonesia),” jawab saya
”Mmm Indonesia, taihen desu ne …? (Mmm Indonesia susah ya …?)” komentar orang itu spontanitas keluar.

Setidaknya hal di atas mempengaruhi suasana hati, membuat gundah hati kita juga. Maunya yang dinilai orang itu adalah sisi baik dari negeri sendiri.

Begitu juga yang dialami oleh Mba Fitri dengan adanya tragedi bom di Bali, ketika beliau sekolah di Australia, “Saya belajar menghadapi hidup yang keras. Pada saat saya tinggal di Sydney, terjadi “Bali Blast” yang menewaskan banyak orang Australia. Karena kejadian ini disinyalir sebagai tindakan teroris (muslim), akhirnya orang orang yang berkerudung seperti saya ditimpa banyak kejadian-kejadian yang tidak enak.”

Jadi kepada Anda yang hendak bersekolah lagi, harap siap mental dengan perkembangan apapun yang terjadi di tanah air. Tetaplah perlihatkan jati diri kita, walau bagaimana pun jeleknya situasi dan keamanan di dalam negeri. Ketika kita berada di luar negeri, masing-masing pribadi harus merasa sebagai duta dari Ibu pertiwi. Sungguh pun terjadi keadaan yang membuat kita malu, misalnya masalah korupsi di dalam negeri, tapi perlihatkanlah sisi baik diri kita. Tetaplah agungkan Indonesia, karena tak semua anak bangsa berkarakter KKN.

Juga maraknya isu agama Islam dituduh sebagai agama teroris. Jangan pernah membuat kita untuk tidak bersahabat dengan mereka. Buktikanlah pada mereka kalau pribadi muslim itu adalah pribadi yang baik. Agama Islam bukan agama yang jelek seperti yang diberitakan oleh media masa. Tentu ini semua tak bisa diungkapkan dengan kata-kata saja. Tapi harus diwujudkan melalui tindakan yang nyata, yang membuat mereka simpatisan kepada kita.

Perbedaan Iklim
Indonesia sebagai negara tropis, tidak mengenal musim dingin dan perubahan musim yang lainnya. Misalnya Jepang, negara dengan 4 musim; musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Selain itu ada taifu (angin badai yang kencang). Juga di Jepang sering terjadi gempa bumi.

Saya dari pertama datang, bahkan hingga sekarang pun mengakui agak tidak produktif di saat musim dingin. Karena saat musim dingin anginnya yang terasa sangat dingin sekali, membuat aktivitas saya menjadi terhambat. Bahkan saya sering menggunakan baju hingga 5 lapis pada puncak musim dingin untuk membuat tubuh menjadi hangat. Kalau dalam ruangan lab, tak ada masalah, karena ada pemanas listrik yang telah dipasang secara sentral di gedung saya, cukup dengan menekan tombol on kita bisa membuat ruangan menjadi hangat.

Namun masalah muncul ketika kita harus berpergian dari rumah ke kampus atau ke tempat lain. Apalagi kalau hujan pula, atau salju, membuat kita tambah repot. Namun di saat salju, adalah suatu pemandangan yang indah sekali. Selepas salju sering terjadi kecelakaan, misalnya yang terjatuh dari sepeda, karena licin, atau terpeleset di jalan. Harap berhati-hati saja.

Tapi hidup adalah perjuangan, sungguhpun dingin, salju atau hujan sekalipun, tetap harus ke kampus untuk jikken (riset). Suana ini dinikmati saja, karena merupakan pengalaman yang indah untuk dikenang di belakang hari.

Bagi yang mau sekolah ke negara lain pelajari dulu musim di negara tersebut. Dan harus siap mental dengan perubahan musim. Selalulah menjaga kesehatan tubuh, makan dan tidur yang teratur.

Hamil dalam Masa Studi
Di Jepang hamil dalam status sebagai student sungguh merupakan hal yang sangat aneh dan tidak lazim terjadi di kalangan mahasiswa Jepang. Saya belum pernah melihat student Jepang hamil selama masa studinya. Biasanya mereka sekolah diusia muda, dan jarang sekali yang menikah semasa student. Lain halnya kalau laki-laki dan sudah S3, tapi itu pun sangat-sangat sedikit sekali yang sudah menikah.

Sensei saya kaget berat ketika mengetahui saya hamil. Beliau menyesalkan, “Kenapa saya mendaftar juga masuk TIT ?” Dan saya disuruh buru-buru untuk cuti sekolah, setelah beliau tahu saya hamil. Dalam masa cuti beliau pun sering menyampaikan pada suami agar saya berhenti sekolah.

Namun saya tetap bertekad untuk melanjutkan studi, apalagi suami juga sangat mendukung. Dalam pikiran saya, nikah dan punya anak tidak harus dijadikan alasan untuk berhenti dari sekolah.

Begitu juga pengalaman Yessi yang sekolah S3 di Tohoku University, tak jauh berbeda dengan saya. “Di awal tahun kedua saya, saya hamil. Ketika saya memberitahukan berita ini kepada Sensei di bulan ketiga kehamilan saya, reaksi mereka, terkejut. Kaget. Ini pertama kalinya bagi mereka mempunyai mahasiswa yang hamil.”

Yessi juga tidak mendapatkan ucapan selamat atas kelahiran putranya, “Dia tidak menanyakan bagaimana perasaan saya setelah punya anak. Bertanya tentang kondisi saya setelah punya bayi pun tidak. Apakah bayi saya perempuan atau laki-laki ? dia pun tak berminat untuk menanyakannya. Tak ada atmosfer penerimaan, dukungan moral, ataupun suatu “kata selamat” untuk kelahiran anak.”

Ditambah lagi Yessi juga mengalami Postnatal depression (rasa depresi setelah melahirkan), istilah lain dari baby blue, hanya lebih parah. Dapat dibayangkan betapa berat kondisinya saat itu. Alhamdulillah, saat ini beliau sudah menyelesaikan Ph.D-nya. Itu semua karena apa? Karena suaminya benar-benar membantu perjuanannya.

“Saya beruntung, suami saya benar-benar melindungi saya..mengobati perasaan saya, mensupport saya,” tutur Yessi.

Ya dalam masalah ini, pengertian, dorongan, dukungan dan bantuan suami, memang sangat dibutuhkan sekali. Sehingga akhirnya isteri dapat merampungkan sekolahnya. Tanpa bantuan suami mustahil sekolah isteri dapat diselesaikan dengan baik.

Ketika Punya Bayi Sambil Tetap Bersekolah
Yessi yang sekolah S3 di Tohoku University merasakan indahnya punya anak dan tetap hadir ke sekolah, tanpa harus istirahat di rumah sebelum anak bisa dititipkan di hoikuen (nursery school). Sebab beliau terikat beasiswa, sehingga tidak boleh istirahat dari sekolah. Bila istirahat maka otomatis beasiswanya jadi terputus.

Nah apa saja sih kendala yang ditemui ketika punya bayi dan si Ibu harus sekolah?

Banyak kendala yang ditemui Yessy. Beliau bertutur tentang kekhawatirannya, misalnya :
Bagaimana menyusui bayi saya sewaktu saya di kampus?
Bagaimana agar ASI tetap mencukupi kebutuhan bayi, padahal fisik saya benar-benar lelah?
Bagaimana caranya mengerjakan pekerjaan rumah tangga (mencuci, masak, beres-beres rumah) disaat bersamaan mesti mengurus bayi yang harus disusui tiap 2 jam?
Bagaimana caranya supaya tetap konsentrasi di materi riset sambil tetap mengingat waktunya memompa ASI?
Bagaimana supaya tidak gampang capek?
Bagaimana caranya mengurus bayi ketika disaat ada deadline publikasi yang ketat?
Bagaimana caranya meyakinkan Profesor saya bahwa saya bukan mahasiswa yang malas meskipun saya tidak bekerja dalam waktu lama di kampus?
Kapan saya punya waktu untuk diri saya sendiri?
Kapan saya bisa berlibur?

Namun semuanya bisa dilaluinya dengan bantuan dan dukungan sang suami. Dalam menjaga anak, mereka suami istri membuat jadwal yang jelas, sehingga keduanya bisa bersekolah. Begitu juga halnya dengan pekerjaan rumah. Sehingga kerjasama yang baik antara suami dan isteri, dapat menyelesaikan beban pekerjaan yang berat, bila dipikul sendiri oleh isteri.

Mengadaptasikan Anak di lingkungan baru
Mba Angky yang datang menyusul suaminya yang sudah sekolah S3 di Jerman, dan berniat untuk lanjut S2 di Jerman, mengaku punya kesulitan dalam mengadaptasikan anak di lingkungan yang baru, “Mengadaptasikan anak-anak ini, bagi saya termasuk membiasakan ritma kehidupan dan mengenalkan bahasa serta lingkungan baru. Terutama untuk putri saya yang telah didaftarkan di sebuah Taman Kanak-kanak (TK) dekat rumah oleh suami saya.“

Trik yang dilakukan Mba Angky dalam mengadaptasikan anaknya, “Sejak masih di Indonesia, saya banyak menceritakan hal-hal mengenai Jerman.“

Untuk urusan bahasa, “saya putuskan untuk sedikit membantunya di rumah dengan mengajaknya berbicara dalam bahasa Jerman. Dengan harapan setidaknya dia bisa lebih mudah dan lebih licin masuknya ke dalam lingkungan baru. Dan bila di sekolah, dia bisa menyatakan pikirannya ke pendidik TK bila ia menginginkan sesuatu.“

Jadi, bagi Anda yang ingin study di luar dan telah punya anak, harus siap dan paham menghadapi perubahan situasi baru bagi anak. Siap mendampingi anak agar mereka bisa survive dan beradaptasi di lingkungan yang baru. Hal utama yang dilakukan adalah mencarikan sekolah anak. Jadi ketika Ibu sekolah anak pun bisa beraktivitas.

Keadaan yang Tidak Beraturan di Rumah
Bagi pasangan baru, punya anak dan sekaligus sekolah, apalagi di Indonesia tak pernah menangani bayi, mungkin akan terasa keteteran untuk mengatur waktu. Seperti yang dialami pasangan muda, Yessi dan suaminya. “Awal punya bayi, pekerjaan rumah tangga (RT) memang menjadi nomor 3. Dimana nomor 1 bayi dan nomor 2 riset. Hasilnya, pekerjaan RT sering keteteran. Cucian menumpuk, rumah berantakan, jarang masak, dan sampah menggunung. Tapi, lama kelamaan, mengerjakan pekerjaan RT sudah menjadi kebiasaan. Sekarang, walaupun cucian masih sering menumpuk dan rumah berantakan, setidaknya selalu ada nasi dan lauk yang praktis.”

Lalu, bagaimana Yessy mengatur waktu dan tenaganya? “Thanks to my beloved husband for his help,” katanya. Suami-nyalah yang membantunya.

Sungguh terbukti, pengertian dan kerjasama yang baik dengan suami merupakan jalan keluar yang paling ampuh bagi pasangan yang bersekolah dan punya karir. Semoga penuturan ini menginspirasi yang lain yang hendak bersekolah, tapi juga pingin punya anak semasa study.

Tentu bukan itu saja, pembagian kerja antara suami dan isteri dalam keluarga cocok sekali diterapkan bagi pasangan suami isteri di Indonesia yang notabene punya karir apakah di dalam rumah atau di luar rumah. Saya melihat kecenderungan tingginya biaya hidup dan pendidikan anak di Indonesia, menuntut suami-isteri untuk bekerja. Gaji suami saja tidak cukup untuk keuangan keluarga, beberapa data menyebutkan demikian.

Untuk itu alangkah baiknya agar suami dan isteri saling membantu dalam urusan rumah tangga. Urusan rumah tangga bukan urusan isteri semata. Juga urusan mendidik anak. Di kala isteri sibuk tak ada salahnya suami sesekali turun ke dapur atau malah menyuapin anak. Namun setiap isteri tentulah tahu tugasnya sebagai ibu, merawat, membesarkan anak dan melayani suami.

Saya merasakan indahnya suasana rumah, bila adanya dukungan pasangan dalam mengerjakan kegiatan di rumah. Komunikasi berjalan baik, dan pekerjaan rumah cepat dapat diselesaikan. Semoga penuturan ini bermanfaat bagi pasangan suami-isteri. Amiin.

Untuk itu kepada para isteri yang berniat untuk sekolah lagi, mintalah restu dan dukungan suami. Bila suami mendukung insyaAllah beban yang berat bisa dilalui dengan baik. Amiin.

Referensi: Menggapai Cita dalam Cinta Why Not? (ACIKITA Publishing 2007, saat itu masih bernama ACI Publishing).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *