Report Kegiatan ASSJA (ACIKITA Short Studies to Japan), Program Visit Kesehatan, 22 Nov- 2 Agutus, 2017

 

Alhamdulillah program ACIKITA Short Studies to Japan (ASSJA) tema visit kesehatan, yang diikuti para dokter sudah selesai. Peserta terdiri dari dokter Edy SpA dari Palembang dan drg. Mulia Rahmawati dari Ternate, kepala puskesmas di sebuah pulau di Ternate. Dokter Edy mengikuti kegiatan dari tanggal 22-28 November 2017 sedangkan drg Mulia dari tanggal 23 Nov hingga 2 Agustus, 2017.

Seperti peserta visit pendidikan yang ingin lebih lama di Jepang, maka drg Mulia juga memberpanjang masa keberadaannya di Jepang.

 

Kegiatan yang terlaksana terdiri dari

  1. Visit fasilitas kesehatan di Shiawase no Mura.
  2. Visit rumah sakit (RS) rehabilitasi (di sini dokter Edy benar-benar terkagum dengan pelayanan RS nya). Kami mendapatkan inspirasi baru, apalagi se Indonesia (khabarnya) belum ada RS rehabilitasi ini. Kita mungkin mengira rehabilitasi bisa dilakukan di rumah, tapi banyak pasien yang makin lemah dan bahkan berujung dengan kematian, karena tidak ada jurusan medis yang khusus membahas rehabilitasi di Indonesia.

 

Bagaimana urgensi RS rehabilitasi?

Misalkan untuk pasien yang mengalami gangguan syaraf otak atau pembuluh darah di otak, bisa berakibat tidak bisa berjalan seperti biasa dan ada juga yang tidak bisa berbicara seperti biasa. Di Jepang pasien seperti ini diberi treatment oleh tenaga medis setiap hari (fisiknya diterapi). Menurut juru rawat, biasanya butuh waktu rawat inap selama 5 bulan, untuk mereka agar bisa berjalan normal atau kembali berbicara normal. Jadi sebetulnya orang orang yang struk, bisa sembuh kembali dan bisa berjalan normalkembali kalua diberikan perawatan/rehabilitasi yang tepat.

Gangguan berbicara pada seseorang bisa menyebabkan nafsu makan menjadi hilang, asupan makanan dan minuman yang kurang menyebabkan pasien makin lemah dan tubuh tidak cukup energi. Biasanya pasien akan terbaring lemah dan lama kelamaan menemui ajalnya.

  1. Visit perwatan senior. Kami mengunjungi rumah perawatan senior yang fokus pada pasien yang mengalami penurunan daya ingat. Pasien tertua di tempat ini berusia 107 tahun, Ia masih bisa berjalan dengan alat penopang untuk berjalan. Mereka di sini umumnya tidak pakai pampers, setiap senior tersebut dicatat jam buang air mereka masing-masing, dan staf khusus untuk setiap mereka akan selalu waspada pada jam-jam tersebut. Biaya perwatan juga tidak mahal, karena mereka semuanya mempunyai kaigo hoken yaitu asuransi yang cukup untuk membiayai perawatan mereka di rumah senior tersebut.
  1. Visit SD, melihat pemeriksaan kesehatan untuk anak TK yang akan masuk SD.
  2. Visit ruangan klinik kesehatan di SD.
  3. Visit Silver College (universitas untuk para senior), mereka di usia senja masih sibuk dengan kegiatan yang bermanfaat, kuliah dan melakukan berbagai aktivitas di kampus.
  4. Visit beragam manusia syndrome di Shiawase no Mura. Mereka bisa hidup dan beraktivitas seperti orang biasa.
  5. Visit pameran kerajinan anak di TK dan fasilitas kelas dan toilet di TK.
  6. Visit herbal garden, beragam tanaman kesehatan dipelihara, melihat produk produk kesehatan. Peserta juga mengikuti kelas pembuatan hand cream, dan sabun yang menggunakan essensial oil.
  7. Visit Kobe University Hospital. Bila ada pasien dari Indonesia bisa saja diperiksa dan dirawat di RS ini, dengan syarat ada surat pengantar dari dokter di Indonesia. Untuk biaya berobat 3 x lebih mahal dari pasien yang mempunyai asuransi di Jepang. Mereka menyarankan kepada pasien untuk membayar dulu biaya berobat, nanti setelah balik ke Indonesia, coba minta ganti uang yang telah digunakan. Tapi apakah sistem kesehatan di Indonesia, mencover biaya pengobatan di luar negeri? Kami juga sudah bertanya pada city office di bagian hoken (asuransi) di kantor pemerintahan kota di Kobe, ternyata tidak tersedia asuransi yang bisa diikuti oleh orang asing dengan temporary visa. Kecuali bila ada anak yang bekerja di Jepang maka orangtuanya bisa ditanggung dalam keluarga anak tersebut. Tapi dalam sistem di Jepang, andaikan penduduknya pergi ke luar negeri dan membayar biaya berobat, maka biaya bisa diganti oleh pemerintah Jepang. Rumah Sakit Kobe Univ juga melayani pasien yang hanya berobat pada saat  travelling, misalnya bila terjadi batuk atau gangguan kesehatan.
  8. Visit Fakultas Kedokteran Kobe Univ. Pada kesempatan ini kami menanyakan prosedur lanjut sekolah, bagi para dokter muda di Indonesia. Ada 2 jalur yang bisa diikuti, pertama sebagai researcher untuk mengambil keahlian di bidang tertentu, kedua sebagai Ph. D student (4 tahun). Untuk researcher bisa diambil selama 7 tahun. Info detil bias didapatkan di website Kedokteran Kobe University.
  9. Visit JICA, dalam hal ini kami menanyakan prosedur kerjasama dengan JICA terkait program kesehatan.
  10. Experience kimono, experience makanan Jepang, dan experience monorail mengitari daerah buatan di Port Airland.
  11. Visit musium sains dan teknologi, di Port Air land.
  12. Visit pusat perbelanjaan, dan membeli beragam ole-ole dan produk khas Jepang di daerah Motomachi.
  13. Visit peradaban nyata serta pemukiman penduduk di suatu daerah, dimana tatanan sekolah, penitipan anak, tempat bermain ibu dan anak, pusat kegiatan masyarakat, beragam klinik, apotek, taman bermain, dan fasilitas olahraga yang luas, dan supermarket bisa dijangkau oleh masyarakat yang berdomisili di tempat tersebut. Sehingga tidak perlu mobilitas berkendaraan memenuhi jalanan, mereka lebih cenderung berjalan kaki dan menggunakan angkutan umum, bila harus bepergian. Hal ini semua disaksikan nyata oleh para peserta.
  14. Visit Expo Japan 2017 tentang Monozukuri di Intex Osaka, yaitu expo besar-besaran yang menampilkan temuan dan produk baru bangsa Jepang pada masyarakatnya. Salut dan haru melihat beragam produk baru muncul. Sungguh sangat banyak ragamnya. Termasuk produk makanan untuk mereka yang senior, tentu semuanya harus lembut dan mudah dikunyah, tapi nilai gizi tetap terpenuhi.

 

 

Hasil yang Jelas yang membuat kami happy,

“Mereka sangat terkagum melihat para medis yang tulus dan ikhlas melayani pasien.”

Mereka para dokter tersebut mantap untuk ingin menerapkan hal baik yang diamatinya langsung di Jepang, serta mantap untuk lanjut program doktoral di bidang kesehatan. Peserta visit system kesehatan ini, tak ingin berakhir mengetahui sistem dan pelayanan medis di Jepang, tapi lebih lanjut ingin menjadi bagian mereka (bangsa Jepang), dengan bergabung di lab-lab profesor bidang kesehatan. Ini ukuran keberhasilan dari program ini,

 

“Nah poin inilah yang kami inginkan, terwujud kesinambungan untuk program kesehatan yang lebih baik di Indonesia.”

 

Datang kemana pun di Jepang adalah edukasi kepada kita untuk menjadi manusia yang menjalankan nilai-nilai Islami, karena mereka bisa baik dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, teknologi, hingga merajut, memasak, menyulam, dsbnya. Sebenarnya mereka bias maju, karena mereka mengekspresikan nilai-nilai Islami yang mereka temukan melalui perjalan kehidupan dan riset di dunia pendidikan mereka.

Harusnya setiap insan yang visit negeri ini, kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya. Bukan malah meninggalkan Islam.

 

“dr Edy spesialis anak dari Palembang InsyaAllah mantab ingin lanjut studi Ph. D bersama isterinya dr spesialis jantung. Semoga dimudahkan Allah. Aamiin

Dan dr Edy, tengah kami melakukan visit hari kedua di Shiawase no Mura, sudah melaporkan, “Bahwa koleganya, beberapa dokter juga ingin ikut program visit kesehatan selanjutnya.”

“Alhamdulillah wa syukurillah!”

 

Peserta yang lain dr Mulia, berucap, “InsyaAllah barang nggak ada yang tertinggal hati saya tertinggal di sini!”

Beliau insyaAllah ingin lanjut studi di fakultas kedokteran gigi Osaka Univ. Semoga Allah memudahkan tujuan mulia ini. Aamiin

Memang untuk visit kedokteran ini adalah acara perdana, tapi alhamdulillah semua program berjalan dengan baik, karena peserta InsyaAllah akan berjuang untuk bisa hadir kembali di Jepang dalam waktu yang lebih lama, tentunya akan memberikan dampak positif untuk perbaikan kualitas dan layanan medis di Indonesia, minimal dimulai dari lingkungan dan wilayah kerja para dokter tersebut.

 

Kami mohon maaf karena foto-foto visit rumah sakit rehabilitasi dan perawatan senior demensia, tidak bisa kami input, sebab tidak boleh mengambil foto.

 

Kami sadar sebagai manusia tentu ada kilaf, kurang, dan keterbatasan kami. Apalagi ini adalah program perdana. Kepada para peserta kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, atas semua hal yang tidak berkenan, InsyaAllah selalu akan ditingkatkan kualitas program yang akan diangkatkan. Kami sangat senang bila para dokter memberikan input program yang dibutuhkan untuk di Indonesia.

Untuk para kolega kami yang berminat mengikuti kegiatan visit sistem kesehatan dapat menghubungi kami, untuk program selanjutnya akan ada kegiatan cek kesehatan di rumah sakit di Jepang, hal ini dimaksudkan sebagai antisipasi dini terhadap penyakit. Kalau kita mengetahui lebih awal tentang kondisi yang berbeda dari manusia normal, maka keberhasilan tindakan pengobatan akan lebih tinggi, serta dapat mencegah munculnya penyakit berbahaya yang berujung pada kematian.

 

Terimakasih.

Wassalam

 

STAF ASSJA

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment