Menanggapi Paparan Bu Elly Risman, “Banyak Anak Indonesia Terpapar Pornografi”

“Selamatkan anak-anak dan keluarga kita.”

Begitu himbauan Ibu Elly, salah satu pakar Parenting Indonesia.

Bila di Jepang Pemerintah melalui pendidikan sangat kibishi (streng) dalam mensupport, menjaga, dan membimbing tumbuh kembang anak. Sejak anak ada dalam kandungan melalui tenaga medis si Ibu sudah diedukasi, saat melahirkan dan berada di rumah sakit maka Ayah dan Ibu diedukasi, komplit pelajaran bagaimana merawat bayi. Setelah pulang ke rumah, akan ada perawat yang mereview si Ibu baru, menanyakan problem dan mencek tumbuh kembang anak. Dan bila Ibu bekerja mulai 3 bulan anak boleh sekolah (hoikuen), tapi untuk masuk hoikuen sangat kompetisi, ada interview dan seleksi yang ketat. Karena dalam sistem mereka, seorang Ibu harus mengurus bayinya, tidak ada dalam kamus mereka bayi diserahkan pada nenek dan kakeknya.

Sangat umum juga para guru SD, TK, pegawai di banyak Kantor yang berhenti bekerja pada saat mereka punya bayi, baru setelah berusia 40 tahun dan semua anak sudah masuk SD mereka akan kembali bekerja.

Apa yang melanda bangsa besar kita saat ini, yang berkaitan dengan terganggunya masa depan anak, kesibukan pasangan, dan pola asuh yang sudah berubah, agaknya bisa kita selesaikan dengan memperbaiki sistem edukasi kita secara terpadu.

Pemerintah, sekolah, orangtua, dan masyarakat harus ikut terlibat dalam pendidikan anak-anak kita. Inilah kondisi ideal yang seharusnya diwujudkan.

Tapi saat ini di Indonesia Pemerintah lemah dalam fokus memperbaiki sistem pendidikan bangsa ini, maka sebaiknya, “Pihak sekolah dan orangtua harus solid untuk memperbaiki kondisi yang tengah menimpa anak-anak Indonesia. Pada saat ini seperti paparan Ibu Elly Risman dalam banyak tulisan dan vidionya,

“Dimana banyak anak-anak yang terpapar pornografi sejak dini.”

Saya share bagaimana jitunya strategi Pemerintah di Jepang mengurusi anak-anak dan pendidikan anak, agar mereka bisa bermanfaat untuk masa depan bangsa Jepang.

Beberapa hal menarik dari pemikiran dan tindakan mereka :

1. Sistem diciptakan dari jam 8.00 pagi  hingga jam 3 sore,  anak berada di sekolah. Program di sekokah  sangat mensupport anak-anak berekspresi semaksimal mungkin. Selain belajar di dalam kelas yang tidak monoton, kegiatan bermain dan olahraga benar-benar sangat dianjurkan oleh semua guru. Bahkan pada jam istirahat panjang, ada guru yang bergiliran bermain bersama anak-anak di halaman sekolah yang luas. Tujuannya membentuk tubuh yang sehat, saling berinteraksi, dan menyalurkan energi aktiv anak.

Usai jam makan siang, ada satu jam pelajaran untuk kegiatan bebersih sekolah, kegiatan ini pun menyalurkan energi aktiv yang dipunyai anak-anak, karena sekolah yang bertingkat dan luas, tidak mempunyai cleaning service. Sebagian anak ada yang bebersih di dalam kelas, di depan kelas, toilet, dan tempat cuci tangan. Mereka murid kelas satu, dipandu oleh senior kelas 6.

Ada juga kegiatan bertanam, setiap jam istirahat panjang, anak- anak akan mengurusi dan menyiram tanamannya setiap hari.

Selain itu ada pelajaran keterampilan yang dahsyat luar biasa, hingga peralatan pertukangan komplit, beragam mesin potong ada di ruangan zouko (keterampilan). Maka  semua program yang dihadirkan di sekolah dipastikan mampu membuat anak menemukan, menyalurkan bakat, dan menghabiskan energi aktiv anak dalam jumlah besar. Tidak ada masa bagi anak untuk terpapar pornografi.

2. Ketika anak pulang sekolah, bagi ibu yang bekerja, maka anak-anaknya pada awal tahun ajaran sudah didaftarkan ke tempat pengasuhan dan pembinaan anak milik pemerintah. Di tempat tersebut anak-anak dipandu oleh guru khusus yang merupakan pegawai pemerintah. Biasanya program yang  dihadirkan agak bebas, bila anak mau membaca, musik, atau mengerjakan PR maka semuanya diperbolehkan, sesuai minat dan maunya anak. Namun biasanya mereka juga mengajak olahraga dan permainan di luar ruangan bagi anak-anak yang sudah menyelesaikan PR sekolahnya.

Bagi anak-anak yg pergi ke tempat penitipan ini, mereka akan dijemput oleh ortunya sehabis  bekerja. Penitipan paling lama biasanya hingga jam 7 malam.

Mungkin kita di Indonesia bisa mendirikan tempat pengasuhan anak-anak SD pulang sekolah. Di Jepang selain jidoukan punya pemerintah, banyak juga tenaga volentir yang mendirikan jidoukan.

3. Bagi anak yang tidak pergi ke penitipan, (artinya ibunya ada d rumah), mereka umumnya ikut beragam club musik, dan olahraga. Bagi anak yang suka belajar, mereka akan pergi ke tempat juku (bimbel), namun golongan ini lebih sedikit. Pada hari mereka tidak pergi ke club, mereka akan bermain bersama di koen (taman), dekat tempat tinggal mereka.

Aturan dan perjanjian bermain sudah disampaikan di sekolah sejak kelas satu, diantaranya, tidak boleh bermain sendiri di taman, tidak boleh ikut dengan orang yang tidak dikenal, dsbnya. Semuanya untuk keselamatan anak.

Jam bermain di taman, ditetapkan oleh sekolah hingga pukul 5, dan bila musim panas hingga pukul 5.30. Bila jam bermain sudah habis, maka guru di sekolah piket secara bergantian untuk memeriksa setiap taman yang ada di suatu kawasan yang penduduknya bersekolah ke sekolah tersebut. Pekerjaan ini dibantu oleh masyarakat dan persatuan orangtua. Biasanya ada list setiap bulan, siapa yang bertugas untuk kepentingan ini. Dengan sistem kerjasama, dipastikan seluruh taman yang ada di satu kawasan pemukiman, dapat diperiksa dengan baik. Dan semua anak dipastikan dalam penjagaan yang baik, tanpa mengurangi dan membungkam mereka dari dunia yang ia butuhkan. POINT ini sangat baik diwujudkan untuk membantu anak-anak kita di Indonesia.

Nah bila ditemukan ada anak yang masih bermain, maka anak akan dibawa ke sekolah, selanjutnya guru akan menelpon orangtua agar menjemput anaknya ke sekolah.

Begitulah ritme kehidupan anak-anak di Jepang umumnya. Mereka dipastikan hingga SMP, secara umum belum terpapar pornografi. Betapa sedihnya kita, bila melihat kondisi anak-anak Indonesia! Masa kanak-kanaknya hilang, akhirnya saat dewasa timbul kejadian aneh-aneh, banyak yang ingin bermain dengan yang lain (apakah selingkuh, pacaran dengan suami atau istri orang).

Kalau kita bandingkan dengan anak-anak Indonesia seperti paparan Ibu Elly Risman-dalam banyak vidio dan presentasi beliau, maka sungguh sangat menyedihkan sekali kondisi anak-anak Indonesia, karena jauh lebih hijau dan terselamatkan anak-anak di negeri Jepang ketimbang anak-anak di Indonesia, dengan latar belakang kita mayoritas muslim dengan BASIC agama Islam semua kita tahu bahwa “Orangtua lah yang menjadikan anak majusi, nasrani, atau Islami.”

Ibu-ibu di Jepang, mereka umumnya hanya bersekolah sampai SMA saja, tapi semua mereka paham tugas membesarkan dan mendidik anak adalah tugas orangtua. Terutama untuk urusan domestik, mereka

mayoritas  ibu paham, kalau hal itu adalah “atarimae” (sesuatu hal yang sudah kewajibannya dan tanggungjawabnya). Umumnya tidak ada anak-anak yang diurus oleh pembantu, orangtua, dan yang lainnya. Kecuali bagi anak yang bernasib malang, misalnya orangtuanya yang sakit, atau orangtuanya yang tidak mau anak dan menyerahkan pada negara, maka ada semacam pengelolaan oleh negara. Semua anak dipastikan diurus, diperhatikan dan dilayani oleh negara, semuanya pasti bisa makan dan mendapat pendidikan wajib SD dan SMP meskipun anak cacat, dan tidak bisa apa-apa sekalipun. Maka negara akan mengurusnya secara khusus. Sungguh hebat memang, kami sering visit ke tempat anak berkebutuhan khusus tersebut!

“Kenapa mereka Pemerintah Jepang beserta jajaran terkait, terutama bidang pendidikan bisa fokus mengurusi dan merumuskan pola untuk kehidupan, sekolah dan dunia anak-anak ?”

Mereka sangat memahami bahwa anak adalah “Takara Mono” (asset bangsa yang sangat berharga). Anak adalah masa depan bangsa. Di sini  hal yang berbeda dengan kita.

Di Indonesia, Pemerintah belum paham 100 persen bahwa anak adalah “Takara mono” sehingga anak-anak dianggap sebagai pelengkap saja, bukan prioritas utama. Walaupun banyak kita dan bahkan pejabat Pemerintah berucap dan mengadopsi kata-kata, “Anak adalah asset bangsa masa depan. Anak adalah asset dunia dan akhirat, untuk itu harus benar-benar diberikan pendidikan yang baik!”

“Tapi aktualitanya? Sangat jauh panggang dari api!”

Hal di atas dapat dibuktikan dengan kondisi umum di negeri kita, misalnya sangat minim hal yang menyangkut kebutuhan dan dunia anak yang merupakan program pemerintah.

1. Taman bermain untuk anak tidak pernah ada konsep bagi Pemerintah secara nasional, dari Sabang sampai Merouke. Kondisi fisik anak-anak kita lemah dan tubuh tidak terolahragakan dengan baik dan maksimal.

2. Acara TV sangatlah tidak ramah dan pantas untuk anak, bahkan tidak ada pembatasan siaran. Tontonan orang dewasa,  gonjang ganjing kepemimpinan bangsa, koruptor, adegan yang tidak Islami, dll  hadir sepanjang masa, dimana semuanya tidak pantas disantap oleh anak-anak Indonesia.

3. Soal HP, tidak ada keputusan pemerintah melarang keras HP dewasa digunakan anak, tidak ada HP khusus untuk anak-anak. Sehingga terjadilah banyak hal yang merusak anak via HP.

Pemerintah Jepang melalui pendidikannya, sangat memperhatikan tegas hal terkait HP. Tidak boleh satu pun anak yang membuat  kontrak HP baru dengan jenis HP untuk orang dewasa. Pebisnis HP pun patuh aturan ini. Jadi bagi anak-anak SD dan SMP semua mereka menggunakan HP khusus untuk anak-anak. Memang tidak tertutup kemungkinan ada saatnya mereka menonton YouTube, via HP orangtuanya, tapi kesempatan itu sangat kecil.

Mengapa mereka bisa sangat patuh, lagi-lagi hasil dari sistem pendidikan mereka, di mana saat dewasa mayoritas mereka melakukan aktivitas sesuai dengan edukasi dini yang sudah mereka terima.

Semoga tulisan inj menjadi inspirasi bagi kita semua untuk segera kompak menyelamatkan anak-anak kita di Indonesia dan memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia meskipun tidak ada instruksi tegas dari pemerintah secara nasional.

Wassalam

Jumiarti Agus

Ketua International ACIKITA

Pendiri ACIKITA

Penulis dan Peneliti ACIKITA